Cerita Yang Mengharumkan Dibalik Gardu Bulugledeg

Supriyanto duduk di Gardu yangv mempunyai cerita mengharumkan

Supriyanto duduk di Gardu yangv mempunyai cerita mengharumkan

Magetan.Suarakumandang.com-Sebelum adzan Azhar berkumandang diatas langit Magetan, terlintas dalam benakku, gardu yang berada di Desa Bulugledeg, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan  yang konon mempunyai sejarah penting dalam kehidupan sesorang. Rasa penasaranpun menghampiri ku untuk melihat dan mengorek informasi lebih dalam tentang sejarah gardu tersebut.

Ditengah-tengah gemericik hujan yang turun di kawasan Desa Bulugledeg, memaksa aku untuk mempercepat lajunya sepeda motor buatan 2003 lalu. Kurang lebih 1kilometer masuk desa Bulugledeg. Didalam benaku perjalananku akan disambut sederatan rumah warga, namun ternyata tidak, aku disuguhi persawahan,  tanaman jeruk, dan tebu yang indah dan nampak subur terrawat .

Suasana masih grimis, diatas sepeda motor tanpa merek ini,  kira-kira dari jarak 200 meter nampak jelas  sebuah menara menjulang tinggi ke langit, begitu sudah dekat,  ternyata sebuah masjid  yang terlalu megah untuk ukuran lokasi di pedesaan.

Ku matikan mesin sepeda motor, kepada  warga aku bertanya  yang kebetulan tinggal disekitar masjid. Ternyata rumah pemilik Gardu berjarak 200 meter dari rumah ke Masjid.

Asslamwalikum, permisi pak, Walaikum salam, sedikit terkejut dia  menjawab, lho mas, kok bisa sampai rumahku. Yang ngasih tahukan jenengan beberapa hari lalu, jawabku sambil merapikan jas hujan,  kok nggak telepon dulu, tanyanya sambil keheranan, jawabku, maaf dari tadi saya hubungi jenengan (anda) jawabnya pulsa tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Berikut liputannya.

Angin saat itu bertiup dengan landai disertai gemricik suara air yang jatuh dari langit. Kami berdua duduk di gardu yang pernah dia ceritakan tempo lalu. Supriyanto demikian namanya, Dia adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah Kabupaten Magetan.

Menurutnya gardu atau orang jawa biasa menyebutnya cakrok yang Konon indektik dengan tempat untuk berjudi dan mabuk-mabukan.”Didirikannya gardu ini awalnya, oleh komunitas kami dijadikan tempat berjudi dan mabuk, dan itu hampir setiap hari kami jalani,”ujar Pri Gardu demikian panggilan akrabnya.

“Bahkan setiap hari saya disibukan oleh teman saya yang kondisinya mabuk berat untuk dibawa pulang ke rumah, sementara kalau saya sendiri tidak suka mabuk, mencium baunya saja saya benci apalagi meminumnya, saya lebih suka berjudi ketimbang mabuk,”katanya.

Hampir setiap hari GARDU ini dijadikan tempat mabuk dan berjudi.”Tak pernah absen mas, hampir setiap hari dan setiap saat, kalau mereka berkumpul disini di GARDU mereka selalu melakukan judi nggak luputnya mereka mabuk sampai pagi,”ucapnya.

Sementara saat disinggung dari mana uang untuk judi dan mabuk, katanya, mereka mayoritas sudah mempunyai pekerjaan tetap, bahkan dari mereka ada menjadi pengusaha.

“Saya juga heran mas, kok sekarang berbalik 180 derajat, yang dulu teman kami yang suka mabuk dan berjudi, sekarang kami lebih suka melakukan amal, pengajian bahkan bila ada waktu tertentu warga sini di ajak tour bersama-sama dengan menyewa 5 sampai 6 bus besar,”katanya.

Pria kelahiran 41 tahun silam itu beralamatkan di Desa Bulugledeg, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur , merupakan ayah dari dua orang anak hasil penikahan dengan istrinya bernama Endang Setyawati.

Menurutnya, tingkah laku bisa berbalik 180 derajat, ketika itu malam hari, tepatnya malam 1 Muharam 1430 Hijiriah lalu, dibawah Gardu Supriyanto  dan teman-temannya sedang berkumpul, saat  itu juga, Pri GARDU timbul sebuah angan-angan dan dilontarkan ke teman-temannya yang saat itu  sebagian ada yang mabuk dan berjudi di gardu tersebut.”Moso to cah urip’pe dewe nganti tuwek arep ngene iki wae, ayo mendingan awak’e dewe ndang tobat ae” (Masa sih hidup kita sampai tua nanti akan begini terus, ayo lekas tobat saja) .

Dari situlah gardu yang awalnya untuk berjudi dan mabuk  mulai saat itu, Supriyanto bersama 10 temannya mencetuskan bahwa GARDU tersebut merupakan  tempat pencetus ide kreatif baik dibidang keagamaan maupun kemasayarakatan.”Awalnya sekitar 10 orang yang aktif dipengajian, sementara pengajian kami mendatangkan seorang Kyai khusus untuk memberi siraman rohani dan shering,”akunya.

“Pengajian yang kami adakan tidak seperti  pengajian pada umumnya yang harus berkumpul dilapangan , di masjid atau di sebuah aula,  akan tetapi hanya sebatas luasnya gardu, seperti layaknya orang bergadang di Gardu,”terangnya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, Pri GARDU bersama 10 temannya berangsur mengalami perubahaan dalam kehidupannya.”Alhamdulilah, dengan niat perubahan kehidupan yang baik,  perekonomian  kami dan teman-teman-pun mulai berangsur membaik dan masyarakat pun lambat laun memberi kepercayaan kepada kami,”tandasnya.

Kini GARDU mempunyai arti yakni, Guyub Akur Rukun Dalane Urip yang mempunyai  motto Dengan semangat Guyub Akur Rukun kita capai Dalane Urip Yang Dirodhoi  Alloh SWT  Warosullihi SAW.

“Berjalanya waktu, kami dan teman-teman menjadi panitia pembangunan masjid At-Thoibah dan akhirnya selesai dalam waktu  8 bulan, tepatnya bulan September 2013.”katanya lagi.

Pembanguan Masjid dengan menelan biaya sebesar Rp 750 juta itu, diresmikan oleh Sumantri Bupati Magetan. Saat itulah Supriyanto ditengah kesibukannya sebagai staf Dinas Pekerja Umum (DPU) bagian bendahara  dipercayai juga menjadi ketua takmir masjid.

Waktu terus berjalan, dengan memperbanyak  shodakhoh , selalu menjaga sholat jamaah,serta Mujahadah, bapak yang memiliki dua anak ini masing-masing bernama Mifta dan Bintang, usaha yang dijalankan bersama istrinya tercinta semakin membaik.Kini Supriyanto berhasil mengelola 25 sapi, 10.000 ekor ayam bertelur dan mengelola angkutan umum.

Tak hanya sampai distu saja, pria yang mempunyai tipe pekerja keras itu, di desanya juga dijadikan sebagai Ketua LPM.

Suami dari Endang Setyawati staf bagian umum dilingkup pemkab Magetan  ini memang tipe pekerja keras, sehingga tak heran kalau Supriyanto menjadi kebanggaan kedua anaknya yakni, Mifta yang saat ini masih aktif sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan Bintang siswa TK Bhayangkari Magetan

Seiringnya waktu sekarang anggota Gardu berjumlah lebih dari 200 orang. Gardu sendiri mempunyai agenda rutin , yakni setiap tahun baru Muharaam mengadakan pengajianm umum, ziarah bareng .”Rata-rata kalau ziarah kami dan temanteman nyewa bus hingga 3 sampai 4 bus, selain itui kami tiap bulan sekali mengadakan arisan, Alhamdulilah hingga sampai saat ini perkumpulan yang awalnya dari Gardu tempat masiat kini berubah total seperti anda lihat mas,“ lanjutnya lagi sambil menunjukan buku agendanya.

Masih kata Supiyanto, Allhamdulilah hal ini juga terdorong setelah aktif di Wahidiyah,menurutnya dengan bergabung dengan Wahidiyah kami telah menemukan ketenangan hati yang merupakan kunci dari kesuksesan .” Di Wahidiyah  kami juga rutin mengikuti pengajian-pengajian yakni  setiap tahun kami mengaji dua kali ke Jombang, 2 kali ke kabupaten di jawa timur, 3 bulan di kabupaten, 1 bulan di tingkat kecamatan, dan satu minggu sekali  sedesa.”Dalam benakku ternyata bekas penjudi dan mabuk tidak selamanya sampah masyarakat, akan tetapi dengan niat bersih dan ikhlas maka seperti anda lihat saat in mas,”tandasnya.

“Pada kesimpulan tukang judi dan mabuk ada untungnya , dimana yang dulu suka berjudi maka untuk menyumbang selalu tidak eman, pikirnya dari pada uang dibuat maksiat seperti berjudi, dan , mabuk sekarang menjadi lebih baik,pungkasnya.Cahyo.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.