SKI News
Telaga Sarangan Magetan Tetap Jadi Primadona, Pengunjung 2025 Lampaui 2024

Sarangan lagi ramai. Antrean kendaraan di Jalan Telaga Sarangan, 2026, jadi tanda telaga ini masih jadi magnet wisata.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Di saat banyak orang memilih ngerem pengeluaran imbas kebijakan efisiensi nasional, Telaga Sarangan justru melaju kencang.
Destinasi wisata andalan Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini kembali membuktikan diri sebagai magnet wisatawan.
Ketika sejumlah objek wisata lain mengalami penurunan kunjungan, Sarangan tetap jadi favorit.
Libur Tahun Baru 2026 menjadi saksi: telaga di kaki Gunung Lawu itu kebanjiran pengunjung datang untuk liburan sekaligus healing.
Dampaknya terasa langsung. Para pelaku usaha, khususnya sektor kuliner dan penginapan, mengaku bersyukur.
Lonjakan wisatawan membawa berkah, omzet pun ikut terdongkrak.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan mencatat tren positif kunjungan ke Telaga Sarangan.
Pada 2024, jumlah wisatawan mencapai 1.080.666 orang. Angka itu naik menjadi 1.094.668 pengunjung sepanjang 2025.
Tren ini berlanjut di awal 2026. Saat libur Tahun Baru, jumlah kunjungan melonjak hingga sekitar 50 persen dibandingkan hari biasa.
Bukan hanya ramai, Sarangan juga makin cuan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata naik dari Rp 20,1 miliar pada 2024 menjadi Rp20,2 miliar di 2025.
Sinyal kuat bahwa pariwisata masih jadi mesin ekonomi tetap berputar, meski kondisi nasional sedang ketat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan, Joko Trihono, menyebut ramainya Telaga Sarangan bukan kebetulan.
Berbagai inovasi terus dilakukan, mulai dari penataan kawasan, pengembangan wahana, hingga peningkatan kualitas layanan.
“Daya tarik destinasi harus terus diperkuat supaya wisata daerah tetap relevan dan kompetitif,” ujar Joko.
Sepanjang 2025, wajah Sarangan memang berubah. Penginapan tampil lebih berkelas, pilihan kuliner kian lengkap dari yang legendaris sampai modern serta fasilitas hotel dan restoran yang semakin nyaman.
Bagi wisatawan, ini berarti satu hal: alasan untuk tinggal lebih lama.
Hal itu dirasakan Anna, wisatawan asal Ponorogo baru pulang bekerja dari Hongkong.
Awal 2026, ia sengaja mengajak keluarganya berlibur ke Sarangan.
“Sarangan sekarang beda. Kuliner banyak, penginapannya profesional. Aku nginep sehari semalam karena cuacanya dingin, seger. The best buat liburan,” katanya sambil tertawa.
Di tengah tekanan ekonomi, Sarangan membuktikan satu hal: wisata terus berinovasi bukan cuma jadi tempat kabur sejenak, tapi juga penggerak ekonomi lokal. Healing jalan, daerah pun ikut hidup.
Jurnalis: Cahyo Nugroho
