Connect with us

SKI News

PRLB, Jurus Genit Ngawi Lawan Padi Kerdil Sebelum Bikin Petani Meringis

Published

on

Padi Mendadak Pendek Tanaman padi tampak kerdil dan pertumbuhannya terganggu. Kondisi ini menjadi perhatian petani di Ngawi.

Suarakumandang.com, BERITA NGAWI. Padi baru tumbuh subur, eh… setelah dipupuk malah mendadak kerdil. Petani di Ngawi tentu dibuat waswas. Tapi tenang, Pemkab Ngawi punya jurus: Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).

Program PRLB yang digulirkan Pemkab Ngawi tersebut sudah diterapkan secara bertahap di sejumlah wilayah. Namun, masih ada beberapa lahan pertanian yang belum menerapkannya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Kabupaten Ngawi, Muh Hasan Zainuri, membenarkan masih terdapat wilayah pertanian padi yang belum menerapkan PRLB.

Menurut Hasan, pada sebagian lahan non-PRLB, tanaman padi awalnya tumbuh bagus hingga usia sekitar 30 hari. Namun, setelah dilakukan pemupukan, tanaman justru mengalami pertumbuhan kerdil secara mendadak.

Kejadian tersebut hampir terjadi di seluruh wilayah, meskipun luasannya masih di bawah tiga persen dari total lahan tanam,” terang Hasan kepada awak media.

Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas tanah di sejumlah lahan pertanian non-PRLB. Kondisi tersebut membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan jamur maupun virus yang berkembang di dalam tanah.

Masalahnya, ketika tanah sudah kurang sehat kemudian langsung diberi pupuk kimia, tanaman belum tentu mampu menyerap unsur hara secara optimal.

Akibatnya, pertumbuhan tanaman terganggu dan padi bisa terlihat kerdil. Sudah diberi pupuk, kok malah ngambek? Nah, di sinilah PRLB mulai memainkan perannya.

Hasan menyebut, salah satu langkah awal yang didorong DKPP adalah memperbaiki kondisi tanah sebelum pemupukan. Petani dapat menggunakan bubur California, dolomit, serta bahan pembenah tanah lainnya saat pengolahan lahan.

Langkah tersebut ditujukan untuk membantu memperbaiki kondisi tanah sehingga lebih siap menerima unsur hara yang diberikan melalui pemupukan.

Selain itu, penggunaan herbisida kimia juga disarankan mulai dikurangi dan diganti dengan herbisida alami. Tujuannya menjaga sekaligus mengembalikan keseimbangan mikroorganisme yang ada di dalam tanah.

Tak kalah penting, tingkat keasaman atau pH tanah juga perlu diperhatikan. Kondisi pH ideal sebelum pemupukan diupayakan berada di kisaran lebih dari 5 hingga 6, sehingga penyerapan unsur hara oleh tanaman bisa berlangsung lebih optimal.

Melalui penerapan PRLB secara bertahap, DKPP Ngawi berharap persoalan tanaman padi kerdil dapat ditekan sejak awal. Harapannya sederhana, padi jangan cuma hijau di awal, tetapi juga sehat sampai panen.

Dengan perbaikan kualitas tanah dan pola budidaya yang lebih ramah lingkungan, gangguan pertumbuhan tanaman diharapkan tidak berkembang menjadi persoalan lebih serius hingga berujung pada gagal panen.

Jurnalis: Ahmad Hakimin.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *