SKI News
Dari 21 ke 6 Kursi: PDI Perjuangan Magetan Ditegur Sejarah, Wong Cilik Jangan Cuma Jadi Slogan

Joko Suyono, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Magetan sekaligus Ketua Panitia HUT, menyampaikan penjelasan kepada awak media di Gedung DPC PDIP Magetan, Sabtu (10/1/2026).
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Sejarah akhirnya bicara lantang, dan PDI Perjuangan Kabupaten Magetan, Jawa Timur tak lagi punya alasan untuk menutup telinga.
Dari partai penguasa suara rakyat, kini banteng moncong putih harus menelan fakta pahit: kursi menyusut, kepercayaan ikut mengempis.
Di tengah peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan, pengakuan itu disampaikan tanpa bungkus basa-basi.
“Kami bertekad merebut kembali suara rakyat dan mengembalikan kepercayaan penuh kepada rakyat,” ujar Joko Suyono, Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPC PDI Perjuangan Magetan sekaligus Ketua Panitia HUT.
Kalimatnya terdengar rapi. Namun sejarah punya cara sendiri untuk bersikap kasar.
Tahun 1999, PDIP Magetan berdiri gagah dengan 21 kursi DPRD.
Dua puluh lima tahun berselang, 2024, tersisa 6 kursi lebih mirip sinyal darurat ketimbang capaian politik.
Angka-angka itu tersusun seperti laporan luka lama yang belum sembuh:
1999: 21 kursi
2004: 17 kursi
2009: 11 kursi
2014: 8 kursi
2019: 10 kursi (sempat bangkit, lalu jatuh lagi)
2024: 6 kursi
“Ini evaluasi besar bagi kami. Kenapa bisa turun, dan bagaimana kursi itu bisa kembali kami rebut,” lanjut Joko.
Sebagai partai wong cilik, PDIP Magetan mengakui ada jarak tak bisa lagi ditutupi dengan spanduk dan yel-yel.
Ketika partai sibuk merapikan struktur, rakyat sibuk mengatur isi dapur. Saat kader sibuk rapat, wong cilik sibuk bertahan hidup.
Slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” kini diuji ulang.
Bukan di baliho. Bukan di panggung.
Tapi di sawah, pasar, dan rumah-rumah yang selama ini merasa hanya didatangi lima tahun sekali.
“PDIP harus kembali hidup di tengah rakyat, bukan sekadar hadir saat pemilu,” celetuk seorang kader internal, setengah berbisik, saat acara HUT 53 berlangsung.
HUT ke-53 PDI Perjuangan di Kabupaten Magetan pun tak lagi sekadar perayaan usia.
Ia berubah menjadi cermin besar tempat partai menatap wajahnya sendiri:
masihkah membela wong cilik, atau hanya pandai mengucapkannya.
Sejarah sudah memberi catatan. Rakyat kini menunggu bukti, bukan retorika.
Dan PDIP Magetan, mau tidak mau, harus menjawab satu pertanyaan sederhana tapi mematikan: apakah banteng masih berani turun ke sawah, atau sudah terlalu nyaman berdiri di panggung.
Jurnalis: Tim Redaksi.
