Connect with us

SKI News

Panen Raya Jagung di Ngunut Magetan: Polisi Turun Sawah, Negara Jangan Cuma Turun Zoom

Published

on

Panen raya bukan sekadar pose. Kapolres Magetan bersama perwakilan Bupati memegang padi siap panen harapannya, kesejahteraan petani ikut dipanen, bukan cuma citra.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Di tengah gembar-gembor swasembada pangan 2026, hamparan jagung di Desa Ngunut, Kecamatan Kawedanan, Kamis (8/1/2026), mendadak jadi panggung nasional.

Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa turun ke sawah, memanen jagung bersama petani dalam Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I 2026. Negara hadir setidaknya secara simbolik.

Panen ini bukan acara lokal biasa. Dari Magetan, kegiatan tersambung lewat layar zoom bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hingga Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto). Lengkap. Rapi.

Terkoordinasi. Tinggal satu pertanyaan klasik: setelah kamera mati, apa yang tersisa bagi petani.

Deretan pejabat ikut menyemut di lahan jagung. Mulai Wakapolres, PJU Polres Magetan, Kepala Dinas Pertanian, BPS, unsur TNI-Polri, Bulog, camat, kepala desa, hingga kelompok tani.

Panen kali ini seolah ingin menegaskan: urusan pangan terlalu penting jika hanya diserahkan pada lumpur dan cangkul.

Dalam sambutannya, Kapolres Magetan memberi apresiasi dan menegaskan posisi Polri bukan sebagai aktor utama, melainkan penggerak dan pengaman.

Pernyataan yang terdengar ideal sekaligus mengingatkan bahwa petani masih tetap sendirian saat harga jatuh dan pupuk langka.

“Polri hanya mengarahkan dan menggerakkan. Pelaku utamanya tetap petani. Tugas kami memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar,” ujar AKBP Raden Erik.

Ia juga menyebut panen raya ini sebagai bagian dari Asta Cita Presiden RI dan harapan besar agar Magetan menjelma menjadi lumbung pangan nasional.

Harapan yang manis, meski publik tahu: menjadi lumbung pangan bukan cuma soal panen raya, tapi juga soal pascapanen, distribusi, dan keberpihakan anggaran.

Panen Raya Jagung Serentak ini memang dimaksudkan sebagai etalase kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat swasembada pangan nasional.

Komoditas yang disasar pun bukan hanya beras, tapi juga jagung, singkong, kedelai, hingga tebu. Lengkap di atas kertas.

Namun bagi petani di Ngunut, panen bukan soal jargon nasional. Panen adalah soal harga yang adil, pupuk yang tersedia, dan kepastian pasar.

Negara boleh hadir lewat zoom, polisi boleh turun sawah, tapi kesejahteraan petani tak boleh berhenti di seremoni tahunan.

Panen sudah dilakukan. Jagung telah dipetik. Kini giliran kebijakan yang diuji: benar-benar berpihak, atau sekadar panen citra.

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *