Curhat Yusuf, lanjutan Sepatu Kulit Sebagai Ikon Magetan Telah “Dinjak-Injak Dan Dirusak Pejabat Sendiri”

Yusuf

Yusuf

Magetan.Suarakumandang.com – Mohammad Yusuf Ashari, telah lama malang melintang di dunia kerajinan sepatu kulit, perjuangannya untuk meningkatkan taraf hidup para perajin sepatu, dan bagaimana supaya produk kerajinan kulit di Magetan semakin dikenal, pada akhirnya mengantarkannya sebagai Ketua Asosiasi Perajin Kulit Magetan (ASPEK).
Dalam suasana ngobrol santai dengan Suarakumandang.com di ruang jenguk Rutan Magetan, Rabu (15/06/2016) lalu, ia pun teringat dengan pernyataan seorang Asisten Bupati Magetan. Bahwa untuk pengadaan sepatu PNS di lingkup Pemerintah Kabupaten Magetan itu, untuk memberdayakan produksi lokal dari para perajin sepatu Magetan.
Yusuf dan rekan-rekan perajin sepatu lainnya, menyambut positif niat baik Pemkab Magetan yang dirasa sangat berpihak kepada para pengusaha kecil dan menengah di bidang kerajinan sepatu kulit ini. Dan sebenarnya, dengan adanya program pengadaan sepatu kepada para perajin lokal ini, juga mendapat tanggapan dari Madiun, “Ada pihak yang mengatasnamakan pemda Madiun yang menghubungi saya, agar segera mengajukan proposal. Madiun itu mau pesan kalau proses yang di Magetan selesai.” Ungkap Yusuf dengan penuh semangat.

Hal tersebut diyakininya karena memang produk sepatu kulit Magetan telah dipercaya konsumen akan mutunya yang bersaing.“Tapi karena ini ada masalah (Kasus Pengadaan Sepatu PNS yang ditangani Kejaksaan Negeri Magetan, red) akhirnya Madiun membatalkan.” Ceritanya dengan nada kesal.

Kemudian ia menjelaskan angan-angannya jika saja dalam satu tahun ada pesanan sepatu PNS dari tiga kabupaten saja, maka hal itu akan meramaikan industri sepatu kulit Magetan dan tentunya meningkatkan taraf hidup para perajin.

“Selain Madiun, Malang dan Bojonegoro juga telah menghubungi saya dan tertarik untuk memesan sepatu. Karena adanya kasus ini, mereka semua akhirnya mundur, secara otomatis untuk meningkatkan taraf hidup perajin Magetan jadi hilang. ”Keluhnya penuh sesal.

Awalnya dengan adanya program untuk memberdayakan produksi sepatu kulit lokal, Yusuf mengaku senang dan menyambut dengan baik. ”Dari situ, kami (para perajin sepatu kulit, red) akan membuktikan bahwa warga Magetan mampu untuk memproduksi sepatu sesuai pesanan dalam jumlah besar dengan kualitas yang bagus,” Ungkapnya.

Hal itu pada akhirnya, menurut Yusuf gagal total karena adanya beberapa pejabat teras di Pemkab Magetan yang saling menjegal untuk kepentingan politiknya secara pribadi, dan menjadikan program pemberdayaan perajin sepatu lokal itu kasus hukum untuk menjegal pejabat yang lain. “Saya ini cuma dagang sepatu, saya tawarkan ke dinas instansi di Magetan, mau membeli syukur, tidak membeli pun juga tidak mengapa. Tetapi kemudian saya dituduh korupsi dan melanggar Perpres tentang pengadaan barang jasa. Ini gimana, tho, saya kan, cuma jual sepatu,” Ceritanya dengan menggerutu.

Yusuf pun mengungkapkan bahwa dirinya sangat yakin jika ia dikasuskan dilatarbelakangi oleh kepentingan politis pejabat-pejabat Pemkab Magetan sendiri. Tetapi, menurutnya para pejabat itu sungguh tega dengan ikon sepatu kulit yang citranya telah dibangun bertahun-tahun, menjadi hancur dalam sesaat, karena pemberitaan negatif atas kasus sepatu ini. “Saya sempat tanya, ini gimana, tho, sepatu itu ikon nya Magetan, kok, dinjak-injak dan malah dirusak seenaknya saja. Itu yang saya tidak terima sebenarnya,” katanya dengan nada sedikit membentak.

Yusuf juga mengaku untuk memenuhi kebutuhan permodalan bagi perajin dalam membeli bahan baku sepatu, Ia menalangi para perajin, dan terpaksa harus menjaminkan sertifikat tanah dan rumah milik pribadinya senilai Rp 100 juta. ”Saya mengambil pinjaman ke bank dengan jangka tempo 3 tahun, sebelum masuk ke sini (Rutan,red) saya sudah mengangsur 1,5 tahun, sekarang saya tidak tahu di angsur atau tidak, lha, wong saya di dalam sini (penjara, red),” terang Yusuf kepada Suarakumandang.com

Yusuf kemudian menerangkan bahwa dirinya tidak tahu menahu soal panitia pengadaan sepatu PNS, “Tugas saya hanya menjual sepatu, bagaimana memproduksi sepatu cepat selesai dengan kualitas yang disesuaikan pemesan, lha, tapi kemudian kenyataannya seperti ini (dikasuskan,red), kan, membingungkan saya,” tegasnya.

Lanjut Yusuf, semisal pihaknya dituduh melanggar perpres pengadaan barang jasa, sebagai penyedia barang itu kemungkinan bisa dikatakan jika korupsi, karena sepengetahuannya tidak ada dokumen yang menunjukkan sebagai penyedia barang. “Kalau saya itu sebagai penyedia barang pastinya ada kontrak, MOU, atau SK penunjukan langsung, sedangkan ini tidak ada, jadinya saya sebagai penjual, saya menawarkan, kalau beli syukur kalau tidak beli ya sudah,”jelas Yusuf kepada wartawan Suarakumandang

Apa yang dikemukakan oleh Yusuf juga diperkuat oleh Eko pemilik toko Praktis Magetan. Ia mengatakan pesanan sepatu itu awalnya ia ketahui dari rekan pengusaha kulit di jalan Sawo Magetan. “Saat itu saya diundang oleh teman saya yang kebetulan juga memiliki toko sepatu di kawasan jalan Sawo, seterusnya dipertemukan dengan seorang PNS Magetan.”

Dalam pertemuan itu diinformasikan bahwa pemda Magetan hendak memesan sepatu, karena pesanannya sangat besar, lalu pihaknya menyarankan langsung ke Yusuf karena dia adalah ketua Asosiasi. Cahyo

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.