Bocah 4 Tahun Asal Magetan Taklukkan 4 Puncak Gunung

DIAPIT:Amanta di apit oleh kedua orang tuanya

DIAPIT:Amanta di apit oleh kedua orang tuanya

Magetan.Suarakumandang.com-Usianya baru 4 tahun ternyata sudah berhasil menundukan 4 Gunung di Jawa. Gadis cilik ini bernama Amanta Ufairoh Edeweis, bocah asal Kota wisata Magetan, Jawa Timur.

Anak pertama pasangan dari Ali Suseno (39) dan Rohfin Rosida Fitriana (32) mulai mengenal mendaki gunung sejak usia 7 bulan. “Pertama kali mendaki gunung Lawu saat umur 7 bulan tapi tidak sampai di puncak mas, cuman sampai di pos satu, karena saat itu hanya untuk pengenalaan dulu, dan waktu itu masih digondong oleh ibunya,”katanya.Kamis,(11/07/2016).

“Amanta mulai mendaki dengan jalan sendiri umur 3 tahun, dan gunung pertama kali yang didaki yakni gunung Lawu. didampingi teman-teman Paguyuban Giri Lawu atau disingkat PGL, tepatnya pada 15 agustus 2014 lalu,”ujar Ali Suseno yang akrab di panggil Ali.

Amanta yang lahir pada tanggal 11-Oktober-2011 silam ini diajak mendaki gunung karena orang tua nya ingin mengenalkan lingkungan, menguatkan jantung dan perkembangan otak supaya lebih baik dan cerdas,”Itulah tujuan kami mengapa saya dan istri saya mengajak si kecil untuk mendaki gunung,”terang seorang pria yang bekerja sebagai pelayan SPBU di Geger Kabupaten Madiun.

Pria yang mempunyai istri bekerja sebagai guru taman kanak-kanak (TK) ini mengaku mendapat pengetahuan tentang manfaat mendaki gunung karena sering membaca buku tentang pendakian”Awalnya saya bersama istri sering baca buku tentang manfaat mendakian di gunung, karena manfaatnya baik akhirnya saya lakukan, selain itu kami juga hoby mendaki mas,”terang Ali

Rohfin Rosida Fitriana ibu Amanta menjelaskan, persiapan yang perlu dilakukan untuk Amanta saat akan melakukan mendaki gunung yakni membawa perlengkapan medis, tabung gas, pakian tebal, obat-obatan.” Yang terpenting adalah makanan coklat mas, sebab, coklat selain dia suka, coklat mengandung calori yang dapat menghangatkan tubuh,”jelas Rohfin Rosida Fitriana yang akrab di panggil bu Ana.

“ Sedini mungkin kami kenalan kepada lingukungan, sebab anak seusia amanta akan lebih mudah mengingat dalam otaknya,”jelas Ana yang mengaku pertama ketemu dengan Ali (suami, red ) pada tanggal 3-maret-2013 lalu.

Kata Ali, selama mendampingi Amanta dalam pendakian gunung tidak ada permasalahan yang berarti.”Kendalanya cuman satu mas, yaitu kalau Amanta sudah merasakan ngantuk kami dan rombongan harus berhenti dan istirahat,”katanya.

Agus yang tak lain teman Ali dalam satu organisasi PGL juga menceritakan dalam kenangan yang tidak terlupakan saat mendampingi  Amanta dalam perjalanan pendakian di gunung Merbabu.”Bagimana tidak, kami dan teman-teman PGL lainnya sempat di buat kuwalahan dalam mengikuti Amanta putrinya mas Ali,”ceritanya.

Lanjut Agus, saat itu dia (Amnata, red) mendaki gunung Amanta tidak mau berhenti malahan dia mendaki sambil lari kecil,”kata agus yang setiap hari sebagai security di PLN Maospati.

Ali membenarkan apa yang dialami Agus temannya, menurut Ali saat itu Amanta sudah menemukan jati dirinya bahwa alam merupakan bagian dari hidupnya .

Ali Suseno bersama istrinya warga Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur ini mengaku bangga dengan apa yang lakukan selama ini.”Amanta sudah melakukan pendakian sampai kepuncak diantaranya Gunung lawu 3.265, Gunung Prahu 2.565 mdpl, Gunung Merbabu Magelang 3.142 mdpl, dan Gunung Ijen 2.443 mdpl yang berada di Banyuwangi. Rencana habis lebaran ini akan mendaki di gunung Merapi 2.911 mpdl, isya Alloh tanggal 14-16 bulan ini (juli.red), dan rencana bulan Agustus nanti akan mendaki ke Gunung Rinjani,”katanya.

“Dampaknya banyak mas setelah mendaki gunung, salah satunya tentang kebersihan lingkungan, pernah anak saya menegur seseorang yang mau buang sampah, akhirnya orang tersebut nampak malu dan mengambil kembali,dan memasuan dalam saku celana,”iyannya.

Tidak hanya itu saja, perubahan pola pikiri pada Amanta juga terlihat saat mendaki gunung melihat banyak pohon di coret-coret .”Pak kenapa pohon itu di coret-coret, itukan tidak boleh,” kata Ali sambil menirukan perkataan anaknya beberapa hari yang lalu.

Sementara itu, Ali dan istrinya juga membuka ruko melayani penjualan accessories maupun perlengkapan pendakian  mulai dari jaket, tas gunung, tongkat, kompas, lampu, gas, dan masih banyak lainnya.”kami buka perlengkapan ini untuk menyediakan mereka yang hoby mendaki,”pungkasnya.Cng.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.