SKI News
Upaya Konkret ZIS Entaskan Kemiskinan di Ngawi

Ketua Baznas Ngawi, Samsul Hadi
Suarakumandang.com,BERITA NGAWI. Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tak lagi sekadar jargon mimbar Jumat atau baliho tahunan.
Di Ngawi, ZIS mulai dipamerkan sebagai alat tempur sosial langsung menekan angka kemiskinan, bukan sekadar mengelus rasa iba.
Baznas Kabupaten Ngawi, Jawa Ti.ur mengklaim telah melakukan upaya konkret. Ketua Baznas Ngawi, Samsul Hadi, menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2025, lembaga ia pimpin berhasil menghimpun dana ZIS sebesar Rp 4,9 miliar.
Angka tak kecil, apalagi di tengah situasi ekonomi yang masih membuat rakyat menghitung receh.
Dana tersebut kemudian didistribusikan ke dua sektor utama:
48 persen untuk pendidikan, dan 52 persen untuk penguatan ekonomi. Menurut Baznas, skema ini mampu mengintervensi angka kemiskinan hingga 11.000 jiwa. Klaim yang menarik dan tentu layak diawasi bersama.
Tak berhenti di situ. Memasuki 2026, Baznas Ngawi menaikkan target pemasukan menjadi Rp 6 miliar.
Target ambisius ini diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat pada Desil 3, 4, dan 5, sementara Desil 1 dan 2 kelompok termiskin akan menerima santunan rutin Rp300 ribu per bulan.
Bukan solusi mewah, tapi setidaknya menjaga dapur tetap ngebul.
Yang lebih menarik, tahun ini Baznas Ngawi juga mendapat mandat mengelola program penguatan lumbung pangan seluas 100 hektare, berkoordinasi dengan Dinas Pertanian.
Arahan langsung dari Baznas RI menempatkan Ngawi sebagai wilayah sasaran penguatan pangan. Skemanya, mustahik akan disewakan lahan, didampingi, digarap bersama, dan hasil panennya diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup mereka.
Konsepnya sejalan dengan Asta Cita Baznas: menjadikan zakat sebagai instrumen strategis pengentasan kemiskinanmulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi dengan mimpi besar: mengubah mustahik menjadi muzaki.
Baznas Ngawi juga menegaskan bahwa peningkatan ekonomi tak boleh pincang dengan kualitas pendidikan.
Pada 2025, lembaga ini telah mengalokasikan beasiswa pendidikan bagi 40 mahasiswa dari keluarga berhak. Pesannya jelas: ekonomi naik, pendidikan jangan ditinggal.
Kini publik menunggu satu hal penting: konsistensi dan transparansi. Sebab di tengah deretan angka miliaran dan program ambisius, rakyat tak butuh janji manis mereka butuh perubahan yang benar-benar terasa.
ZIS sudah panas, tinggal diuji: berani konsisten atau sekadar hangat di awal.
Jurnalis; Ahmad Hakimin
