Connect with us

SKI News

Tanah Retak Di Slahung Ponorogo Membahayakan, Warga Berharap Segera Pindah. Ini Alasannya

Published

on

PENGECEKAN LOKASI: Petugas PVMBG didampingi perangkat desa Tugurejo, Kecamatan Slahung,Kabupaten Ponorogo melakukan pengamatan dan pengecekan tanah retak dilokasi

PENGECEKAN LOKASI: Petugas PVMBG didampingi perangkat desa Tugurejo, Kecamatan Slahung,Kabupaten Ponorogo melakukan pengamatan dan pengecekan tanah retak dilokasi

Ponorogo.suarakumandang.com-Sejumah tim peneliti penanggulangan bencana dari pusat volkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVMBG) Bandung langsung melakukan pengecekan tanah retak yang terjadi di desa Tugurejo, Kecamatan Slahung,Kabupaten Ponorogo,Jawa timur

Siswanto kepala Desa Tugurejo menjelaskan, tanah retak yang terjadi di lereng bukit Tanjung ini terus meluas. “Sudah merobohkan 6 rumah warga, tanah retak juga merusak 25 rumah warga serta sekolah dasar,”ujar Siswanto.

“ Enam rumah sudah dirobohkan, sementara yang 15 masih menunggu waktu dan sementara memang 15 rumah masih ditempati, karena masyarakat atau perangkat menganggap itu masih layak, namun arahnya atau rencananya harapannya pindah dan ini masih menunggu dari pemerintah Ponorogo,”katanya.

Heri Purnomo Ketua Tim peneliti penanggulangan bencana PVMBG mengatakan, pihaknya setelah melakukan pengamatan dan penelitian tanah retak diwilayah Kecamatan Slahung mempunyai  sifat yang  membahayakan dan bisa mengancam keselamatan jiwa.

“Munculnya tanah retak sendiri disebabkan selain karena sifat fisik tanah mengalami pelapukan dan batuannya dan mudah menyerap air juga disebabkan karena perubahan tata lahan dari hutan menjadi lahan pertanian dan area persawahan,”katanya.

Lanjut Heri, tanah longsor yang terjadi bisa bergerak dengan cepat, bahkan bisa menyeret rumah atau bangunan disamping sehingga manusia sulit untuk menyelamatkan diri pada waktu terjadi bencana.

“Salah satu penyebabnya di daerah ini adalah perubahan tata lahan dari lahan hutan yang tadinya hutan cukup lebat itu diganti dengan tanaman palawija diganti dengan sawah terus kemudian dengan tegalan,”tuturnya.

PVMBG Bandung menghimbau kepada warga desa Tugurejo untuk terus waspada dan segera berpindah ke tenda pengungsian saat hujan turun. “Potensi tanah retak akan terus bertambah dengan cepat saat hujan mulai turun,”pangkasnya.Dedi.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.