SKI News
Nasgor Naik Kelas, Puluhan Emak-Bapak Adu Rasa Sambil Pamer Kostum Nyentrik Rayakan HUT RI

Peserta lomba memasak nasi goreng tampil dengan kostum unik sambil berjibaku mengolah nasi goreng jumbo dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lingkungan Mayak, Kelurahan Tonatan, Ponorogo, Minggu (9/8/2026) malam.
Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Siapa bilang lomba nasi goreng cuma soal rasa? Di Lingkungan Mayak, Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, 40 warga yang terbagi dalam 20 tim justru harus adu kepiawaian memasak sekaligus adu kreativitas kostum.
Minggu (9/8/2026) malam, suasana lingkungan warga mendadak berubah jadi “dapur perjuangan”. Emak-emak dan bapak-bapak berjibaku mengolah satu ceting atau sekitar lima piring nasi goreng dalam sekali masak.
Yang bikin lomba ini makin tidak biasa, peserta tidak cukup membawa bumbu dan peralatan masak. Mereka juga wajib tampil dengan kostum bertema kemerdekaan dan unik.
Ada yang tampil bak pejuang, mengenakan pakaian adat, bergaya lawasan, bahkan ada peserta yang memilih tampil ala Charlie Chaplin.
Dapur dadakan pun langsung ramai. Sebagian peserta terlihat sudah siap dengan perlengkapan dan bumbu layaknya chef profesional.
Namun, sebagian lainnya justru tampak gugup, canggung, bahkan sedikit berantakan ketika mulai berhadapan dengan wajan.
Belum selesai urusan bumbu, peserta juga harus menghadapi “musuh tambahan”: angin malam yang cukup kencang.
Api kompor yang mudah goyah membuat sejumlah peserta harus ekstra hati-hati agar nasi goreng jumbo yang dimasak tidak berubah menjadi eksperimen kuliner gagal total.
Lomba tersebut sengaja digelar warga untuk menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Nasi goreng dipilih karena dianggap sebagai makanan rakyat yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan bisa diolah dengan beragam cita rasa.
Lurah Tonatan, Agus Subagyo, mengatakan lomba tersebut lebih mengutamakan kebersamaan daripada sekadar mengejar juara.
“Ini untuk seru-seruan saja. Juara tidak perlu dipermasalahkan. Yang penting untuk mengisi kegiatan masyarakat Mayak supaya guyub dan rukun,” ujarnya.
Setelah waktu memasak habis, setiap tim menyerahkan sebagian nasi goreng hasil kreasi mereka kepada dewan juri untuk dinilai.
Sementara sisanya? Jangan sampai mubazir. Nasi goreng langsung disantap bersama-sama warga yang hadir dengan alas daun pisang.
Peserta lomba, Atin Nurcahyo, mengaku kegiatan semacam itu rutin dilakukan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan.
“Lomba nasi goreng ini untuk memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Pesertanya lumayan ramai. Kostumnya bertema kemerdekaan, yang unik dan berbeda,” katanya.
Atin sendiri memilih konsep pakaian lawasan. Baginya, soal menang atau kalah bukan perkara utama.
“Seru banget. Untuk juara tidak masalah, yang penting merayakan,” tambahnya.
Bukan cuma perut yang kenyang, suasana guyub juga ikut terisi. Lomba nasi goreng tersebut menjadi salah satu cara warga mempererat silaturahmi sekaligus merayakan kemerdekaan dengan cara sederhana, kreatif dan penuh tawa.
Karena merdeka itu bukan cuma soal upacara. Kadang, cukup satu wajan nasi goreng, kostum nyentrik, dan warga yang kompak—kampung sudah bisa pecah oleh keseruan.*.
Jurnalis Priyam.
