SKI News
Koordinasi di Atas Kertas, Ranting Masih Menyapa Lampu PJU: Klaim Sekda Magetan Dibalas Penjelasan DLH

Salah satu Lampu PJU di Magetan tertutup ranting pohon di Wates Magetan
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Klaim Sekretaris Daerah (Sekda) Magetan, Welly Kristanto, bahwa persoalan ranting pohon yang menutup Penerangan Jalan Umum (PJU) telah dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), rupanya belum sepenuhnya berbanding lurus dengan realitas di lapangan.
Koordinasi terdengar rapi di podium, namun di jalanan, lampu masih bersembunyi di balik daun.
Saat dikonfirmasi wartawan Suarakumandang.com, Kepala DLH Magetan, Saif Muchlissun menyampaikan bahwa pemangkasan ranting pohon di wilayah kota memang telah dilakukan.
Namun, ia menekankan, pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan secara serampangan apalagi instan, hanya demi memenuhi klaim “sudah dikoordinasikan”.
“Saya jalur kota. Itu sudah kami pangkasi, kami rapikan,” ujar Saifi.
Meski demikian, Saifi menegaskan bahwa pemangkasan dilakukan secara selektif dan bertahap.
Tidak hanya fokus pada ranting yang menutup lampu PJU, tetapi juga mempertimbangkan fungsi pohon sebagai peneduh dan penyangga lingkungan.
“Pemangkasan kami lakukan secara terjadwal dan bertahap, dengan prinsip tidak merusak fungsi pohon sebagai tutupan dan peneduh,” tegasnya.
DLH, lanjut Saifi, juga selalu berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan atau instansi pengelola PJU agar pencahayaan jalan tetap optimal tanpa mengorbankan kualitas lingkungan hidup.
Artinya, terang jalan dan lestarinya pohon seharusnya bisa berjalan beriringan—setidaknya di atas konsep.
Namun, penjelasan DLH ini justru menyingkap celah lain. Narasi “sudah dikoordinasikan” yang disampaikan di level pimpinan terdengar selesai, tetapi di lapangan masih menyisakan tafsir, klarifikasi, bahkan bantahan diam-diam.
Koordinasi, tampaknya, bukan sekadar kalimat aman dalam pernyataan pejabat, melainkan kerja lintas instansi yang menuntut kejelasan titik lokasi, jadwal eksekusi, dan siapa mengerjakan apa. Tanpa itu, koordinasi hanya berhenti sebagai retorika.
Masalah ranting penutup PJU ini kembali memamerkan penyakit lama birokrasi: urusan teknis yang sebenarnya sederhana bisa berlarut-larut ketika komunikasi berhenti di meja rapat, bukan di lokasi kerja.
Kenyataan di lapangan pun berbicara lain. Warga mengeluhkan belum adanya pemangkasan di sejumlah titik, khususnya di wilayah kota.
“Tempat saya di kota, lampu PJU masih tertutup ranting dan daun,” keluh seorang warga dalam grup WhatsApp Magetan viral beberapa waktu lalu.
Keluhan itu mempertegas jarak antara penjelasan resmi dan pengalaman warga sehari-hari.
Hingga kini, masyarakat belum sepenuhnya merasakan hasil dari tanggung jawab antar instansi yang diklaim sudah berjalan.
Apalagi di musim hujan, ranting lebat bukan hanya menghalangi cahaya, tetapi juga berpotensi membahayakan.
Di titik inilah publik pantas bertanya: koordinasi dimaksud itu kerja nyata di lapangan, atau sekadar kalimat aman agar persoalan terdengar selesai.
Jurnalis: Tim Redaksi.
