SKI News
Literasi Jangan Cuma Spanduk, Guru SD Ditantang Berani Menulis dan Melawan Korupsi

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun Agus Sucipto saat membuka kegiatan literasi.
Suarakumandang.com, BERITA MADIUN. Literasi jangan berhenti di jargon dan baliho acara. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Madiun, Agus Sucipto, menegaskan pembelajaran bernilai lahir dari keberanian guru untuk menulis dan berbagi gagasan, bukan sekadar menyalin modul yang itu-itu saja.
Pesan itu disampaikannya saat membuka Talk Show Aksi Literasi Lawan Korupsi dan Lomba Menulis Cerpen Guru SD se-Kabupaten Madiun, di Gedung Dwija Hayu Dikbud Madiun, Jumat (19/12/2020).
“Pembelajaran tidak hanya untuk diri sendiri. Guru harus berani menulis, berani berbagi ke sesama guru dan murid. Jangan takut cerpen, jangan alergi tulisan,” ujar Agus, seolah menyentil kebiasaan lama pembelajaran yang nyaman tapi miskin kreativitas.
Menurutnya, cerita pendek bisa menjadi media pembelajaran efektif mulai dari isu kedisiplinan, lingkungan, hingga nilai-nilai antikorupsi. Jika ditanamkan sejak dini, anak tak hanya pandai membaca, tapi juga punya karakter jujur dan peduli.
Sayangnya, literasi kerap berhenti sebagai program seremonial. Karena itu, kegiatan ini diharapkan tak berakhir sebatas lomba dan foto pembukaan, melainkan benar-benar membentuk kebiasaan menulis di ruang kelas.
Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Kabid Pembinaan SD, Suparwoto, menyebut kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi literasi dan kreativitas guru SD sekaligus menginternalisasi nilai integritas.
“Guru harus jadi agen perubahan. Karakter jujur tidak cukup diceramahkan, tapi diteladankan lewat karya tulis,” tegasnya.
Lomba menulis cerpen ini diikuti perwakilan guru SD dari 15 kecamatan se-Kabupaten Madiun, sementara talk show literasi dihadiri ratusan peserta sebuah angka yang menjanjikan, asal konsisten dijaga, bukan musiman.

PEMBICARA UTAMA: Suprawoto menyampaikan tips menulis artikel dan cerpen dalam Talk Show Aksi Literasi Lawan Korupsi.
Suprawoto: Menulis Itu Dilatih, Bukan Bakat
Pembicara utama, Suprawoto, mantan Sekjen Kominfo (2014–2017), Bupati Magetan (2018–2023), sekaligus penulis aktif di berbagai media massa, membongkar mitos bahwa menulis harus langsung sempurna.
“Saya dulu menulis asal kirim. Ditolak. Dikembalikan. Tapi dari situ saya belajar, minta masukan, lalu memperbaiki,” ungkapnya jujur.
Ia menekankan pentingnya membaca isu aktual, memahami karakter media, dan konsisten mencoba. Resep itu terbukti: tulisannya dimuat di berbagai media cetak dan mendapat apresiasi, bahkan menjadi sumber penghasilan tambahan.
Suprawoto juga mengingatkan guru agar tak sekadar jadi konsumen teknologi.
“Ponsel dan laptop jangan cuma untuk scrolling. Pakai untuk menulis. Otak harus diasah supaya tidak tumpul,” ujarnya, disambut anggukan peserta.
Ia pun menutup dengan pesan yang menohok kebiasaan zaman sekarang: membaca buku fisik tetap lebih baik daripada membaca layar.
“Baca buku itu paling baik. Jangan semuanya dari ponsel,” tandasnya.
Jika guru berani menulis dan konsisten membaca, literasi tak lagi jadi slogan tahunan melainkan napas pembelajaran sehari-hari. Tinggal satu soal: berani memulai atau tetap nyaman di zona aman.
Jurnalis:Agus Basuki.
