Connect with us

SKI News

Got Mampet, Banjir Mengintai: Wabup Magetan Sentil Pola Pikir Warga, Jangan Cuma Nyapu Tapi Mindahin Sampah

Published

on

wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro ,Foto suarakumandang.com

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN .Masalah klasik saluran air kembali disorot. Sampah menumpuk, sedimen mengendap, got tersumbat ujungnya banjir datang seperti tamu tak diundang.

Kondisi ini membuat wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro angkat suara sekaligus menyentil pola pikir masyarakat  dinilai masih perlu dibenahi.

Menurutnya, salah satu tujuan utama dari rencana penataan lingkungan adalah menciptakan ketertiban dan menjaga fungsi saluran air agar tetap bekerja sebagaimana mestinya.

“Paling tidak setahun sekali harus ada pembersihan besar, terutama menjelang dan setelah musim hujan. Karena saat itulah sampah dan sedimen biasanya sudah menumpuk dan berpotensi memicu banjir,” ujar Suyatni. akrab disapa Kang Suyat.

Ia mengaku baru saja berkeliling memantau sejumlah titik di wilayah . Hasilnya, Masih banyak saluran air dengan kondisi memprihatinkan.

“Saya kemarin keliling, termasuk di depan Joglo. Di situ terlihat jelas saluran dan got masih penuh sampah. Ini menunjukkan kebersihan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas saja,” katanya.

Menurutnya, keberadaan petugas kebersihan bukan berarti masyarakat bisa lepas tangan. Justru partisipasi warga menjadi kunci utama.

“Masalahnya sering kali pola pikir kita masih keliru. Nyapu memang, tapi sampahnya dipindah ke selokan atau ditumpuk di satu titik. Kalau seperti itu, masalah tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Karena itu, ia menekankan bahwa penanganan persoalan drainase tidak bisa hanya mengandalkan . Semua pihak harus ikut bergerak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

“Penataan lingkungan harus berjalan bareng dengan edukasi masyarakat. Kalau tidak, saluran dibersihkan hari ini, besok bisa kotor lagi,” ujarnya.

Tak hanya soal sampah, Suyatni juga menyoroti persoalan teknis yang kerap luput dari perhatian, yakni perbedaan konsep antara irigasi dan drainase.

“Konsep irigasi dan drainase itu berbeda. Irigasi biasanya di hulu lebih besar dan di hilir lebih kecil karena tujuannya menahan air selama mungkin untuk pertanian. Sedangkan drainase justru sebaliknya, di hulu kecil dan di hilir lebih besar agar air cepat mengalir dan tidak menimbulkan genangan,” jelasnya.

Namun di lapangan, ia menemukan kondisi cukup unik sekaligus problematis.

Di wilayah Kecamatan Panekan dan Kecamatan Ngariboyo  satu saluran justru digunakan untuk dua fungsi sekaligus: irigasi dan drainase. Padahal secara konsep keduanya bertolak belakang.

“Di dua wilayah itu satu saluran dipakai untuk dua fungsi sekaligus. Padahal konsepnya berbeda. Ini kemudian sering memunculkan persoalan di lapangan,” ungkapnya.

Dari berbagai temuan tersebut, ia menilai sudah saatnya ada perubahan cara pandang, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

“Drainase itu mutlak harus fungsional. Kalau tidak, dampaknya bisa ke mana-mana. Jalan bisa cepat rusak, aspal mudah hancur, bahkan bisa memicu banjir karena air tidak mengalir di jalurnya. Sampah juga bisa terbawa ke mana-mana,” tegasnya.

Pesannya sederhana tapi tajam: kalau ingin kota tetap nyaman dan maju, got jangan dijadikan tempat buang masalah.

Karena ketika saluran mampet, dampaknya bukan hanya genangan tetapi juga kerusakan infrastruktur dan lingkungan.

Jurnalis: Tim redaksi.

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Sutamno

    Maret 6, 2026 at 7:21 pm

    Ojo nyalahne rakyat …
    Sejak akhir era 1980an Magetan wis oleh Adipura. Artine rakyat wis sadar. Kari infra struktur sing kudu disiapke pemerintah piye ….?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *