Connect with us

SKI News

Desa Bersih Narkoba di Kedungbanteng: Deklarasi Dibacakan, Ancaman Justru Membesar

Published

on

Polisi memberi arahan dan pembinaan kepada masyarakat. Kata-kata disampaikan di ruang terbuka, tantangannya justru ada di luar forum: berani patuh atau kembali abai.

Suarakumandang.com,BERITA PONOROGO. Spanduk boleh bersih, balai desa boleh rapi, tapi narkoba tak pernah peduli pada dekorasi.

Di Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sukorejo, Polsek Sukorejo bersama Forkopimcam kembali menggelar sosialisasi “Desa Bersih Narkoba” (Bersinar), Rabu (31/12/2025).

Acara berjalan tertib. Pertanyaannya: apakah ancaman ikut tertib

Kapolsek Sukorejo IPTU Agus Tri Cahyo Wiyono, secara terbuka mengakui fakta yang jarang diucapkan lantang di forum resmi: kasus narkoba di Ponorogo meningkat.

Artinya, di balik jargon perang narkoba yang rutin dikumandangkan, peredarannya justru kian lincah, menyusup sampai ke desa-desa yang merasa dirinya “aman”.

“Korban narkoba bukan hanya pemakai. hancur itu masa depan, keluarga, dan lingkungan,” ujar Kapolsek.

Kalimat itu terdengar normatif, tapi maknanya brutal: selama ini ada pembiaran.

Lingkungan sering memilih diam, keluarga memilih menutup mata, dan desa memilih sibuk dengan administrasi ketimbang kewaspadaan.

Sosialisasi yang menyasar Karang Taruna Banteng Muda Manunggal ini seolah menjadi alarm keras bagi pemuda desa: menjadi penonton atau menjadi penjaga. Namun ironisnya, narkoba tak menunggu deklarasi. Ia bekerja senyap, masuk lewat pergaulan, ponsel, dan uang instan.

Lebih tajam lagi, Kapolsek turut menyinggung judi online penyakit baru yang kerap dianggap sepele karena tak meninggalkan bekas fisik.

Padahal dampaknya sama ganasnya: rumah tangga ambruk, ekonomi rontok, dan kriminalitas lahir pelan-pelan.

Camat Sukorejo Setiyo Hari Sujadmiko bahkan menampar realitas dengan kalimat tak langsung: Desa tak akan aman jika poskamling mati suri. Ronda hanya hidup di proposal, bukan di malam hari.

“Karang Taruna harus memetakan potensi kerawanan sampai tingkat RT,” tegasnya.

Terjemahannya jelas: selama ini ada wilayah gelap yang sengaja tak disentuh.

Danramil Sukorejo Kapten Inf Solatin menyebut Desa Bersinar sebagai fondasi generasi emas. Namun fondasi rapuh jika hanya dibangun di ruang balai desa, tanpa keberanian menegur, melapor, dan melawan meski pelakunya orang dekat.

Deklarasi Lingkungan Anti Narkoba akhirnya dibacakan. Teksnya rapi, suaranya lantang, fotonya siap edar.

Tapi publik Ponorogo tentu berhak bertanya: berapa lama deklarasi ini bertahan.

Seminggu? Sebulan? Atau hanya sampai baliho diturunkan?

Sebab narkoba tak pernah takut pada seremonial. Yang ia takuti hanya satu hal: lingkungan yang benar-benar berani melawan, bukan sekadar berjanji.

Jurnalis:Tim Redaksi

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *