Cerita Mantan PSK di Magetan Dari Tahun 1988

Warung dimana tempat Melati bekerja dulu yang terletak dikawasan desa Malang tepatnya sebelah barat jembatan yang menjadi perbatasan dengan desa Malang dan Kelurahan Maospati.

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Diusianya yang sudah memasuki setengah abad lebih ini seorang ibu hanya menggantungkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.

Sebut saja Melati (nama samaran ) dia mengaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga karena sudah tidak ada yang lain.

Profesi sebagai pekerja Sek Komirsial (PSK) di wilayah Maospati, Kabupaten Magetan, Jawa Timur sudah dilakukan sejak tahun 1988 dan berakhir di tahun 2014 lalu.

Ibu anak satu ini dari tahun 1988 sampai sekarang tetap berada di sebuah warung yang  berlokasi disebelah barat jembatan perbatasan kelurahan Maospati dengan Desa Malang kecamatan Maospati.

“Sebenarnya pekerjaan sebagai itu (PSK,red)  dulu  bukan kemauan saya, tapi semua itu karena nasib saya kenapa bisa seperti ini,”herannya.

Dari tahun 1988 sampai 2014 sepenuhnya Melati  tidak bekerja sebagai PSK. Melati berhenti menjadi PSK ketika ada seseorang laki-laki ingin menikahi. Sudah tiga kali Melati menikah setelah berpisah dengan suaminya.

Melati mengaku nikah pertama gagal karena suaminya mempunyai sifat cemburu dan ringan tangan, karena dengan kondisi seperti itu terpaksa Melati  memutuskan kembali dimana melati bekerja di warung.Hubunganya dengan laki-laki yang dikenal saat kali pertama bertemu di warung dimana melati bekerja.

“Umur pernikahan saya tujuh tahun. Nikah kedua juga gagal karena pasangan hidup saya orangnya “cupar”, segala sesuatu dibelikan sampai urusan dapur seperti garam dan cabe. Pernikahan saya dengan dia bertahan hingga lima tahun,”kata Melati sesaat melihat handphone jadul yang dipegangnya.

Sedangkan suami ketiga melati berpisah karena ajal menjemputnya.

Awal masuk kedunia hitam. Melati menceritakan, Tahun 1988 suatu ketika suami Melati mengajak trans ke Sumatra , namun ajakan itu ditolak.”Saya nggak mau mas, akhirnya dia pergi sendiri ke Sumatra. Saya dirumah bersama anak ,”terangnya.

Perpisahan itu terpicu ketika selang beberapa tahun suaminya kembali dengan membawa seorang wanita diajak kerumahnya.”Wanita yang diajak itu asal Wonogiri Jawa Tengah. Mulai saat itulah saya mulai membenci suami saya, dan pergi meninggalkan rumah,”katanya.

“Entah ada apa, kenapa kok saya bisa bekerja diwarung ini (pinggir kali). Dari situlah gara –gara aku bisa menjadi PSK. Dulu aku masih muda umurku sekitar 19 tahun warung dimana tempat aku bekerja selalu dipenuhi laki-laki yang saat itu hanya sekedar ngopi dan berkenalan dengan saya,”ucap Melati warga kawasan kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.

Seperti yang dikatakan, saat ini Melati hanya bisa menikmati sisa-sisa hidupnya sebagai pembantu rumah tangga dan malamnya membuka warung disebelah dimana tempat dia bekerja dulu.

“Saya berhenti sebagai profesi itu sudah 4 tahun yang lalu. Alasan berhenti karena kondisi kesehatan dan saya sudah tua,”ucapnya sambil tersenyum dengan raut wajah menyesal.

Bermacam laki-laki yang dilayani Melati saat masih berprofesi PSK di Kawasan Kecamatan Maospati.”Nggak terhitung jumlahnya mas laki-laki yang aku layani. Hampir semuanya pernah saya layani , mulai dari yang masih duduk dibangku sekolah dan orang tua semua pernah sudah aku layani,”ucapnya sambil tertawa.

“Bermacam permintaan saat melayani , apalagi kalau lagi mabuk itu biasanya anak SMA, mintanya aneh-aneh dan itu yang paling aku tidak suka,”jelas Melati tergesak menutup cerita lama itu sambil raut wajah marah.

Meski demikian ibu yang lahir tahun 1963 diakhir tahun ini tetap berdandan sebagimana mestinya saat-saat di dulu pernah bekerja sebagai profesi PSK. “Dandan ini kan supaya pembeli di warung ku nyaman, biar aku tetap kelihatan bersih dan menarik meski saya sudah berhenti,”kata Melati.

“Tutup warung tidak malam-malam, apalagi kalau besok paginya ada orang yang sudah pesan untuk mencucikan pakaian  dan menyeterika, paling jam sebelas sudah tutup,”kata Melati lagi.

Sementara upah Melati untuk mencuci dan menyeterika pakian tinggal dilihat dari banyaknya pakaian.”Upah yang saya terima sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 70 ribu tinggal sedikit banyaknya pakaian,”akunya.

Tak hanya mencuci dan menyeterika. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Melati juga bekerja sebagai juru masak di acara pernikahan.

“Ya itulah sedikit banyak tentang perjalananku dulu mas. mungkin ini yang bisa saya lakukan sampai ajal menjemputku,”tutupnya  sambil mematikan kompor gas. Cahyo.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.