Connect with us

SKI News

Ratusan Banner Dipaku di Pohon Bikin Magetan Kumuh, Perda Cuma Jadi Pajangan?

Published

on

Disalah lokasi, Pohon Dijadikan Papan Promosi Massal—Puluhan Banner Dipaku Sembarangan, Magetan Tambah Kumuh!

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Kabupaten Magetan kembali tampak kumuh. Pohon-pohon kudune rindang dan bersih malah disulap menjadi papan reklame instan oleh para pemasang banner nekat dan serampangan.

Mirisnya, sebagian banner itu berasal dari perusahaan-perusahaan manajemennya tampak semrawut modal berani tapi minim etika lingkungan.

Spanduk dipaku seenaknya, seolah Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2014 tentang Ketertiban dan Kenyamanan Masyarakat hanyalah benda mati tidak punya tuan.

Padahal aturan tegas: memaku benda apa pun di pohon adalah tindakan perusakan lingkungan sekaligus pelanggaran perda.

Namun sejak hari kelahirannya, perda ini seperti belum pernah benar-benar dipeluk oleh “orang tua”mau merawat dan menegakkannya.

Dari era Bupati Sumantri, kemudian Suprawoto, hingga masa “istirahat” diisi Nanik Endang Rusminarti, belum satu pun mampu menaklukkan pasukan banner menempel brutal di pepohonan.

Sebagian warga pun menilai kasus banner ini dianggap “tidak penting”
Terbukti hingga hari ini, persoalan ini tidak pernah masuk daftar pekerjaan rumah benar-benar diperjuangkan pemerintah.

Yang memberi dukungan penertiban pun hanya segelintir hangat-hangat kucing, cepat hilang tanpa jejak.

Pantauan jurnalis Suarakumandang, banner liar masih bertebaran hampir di setiap sudut.

Pemerintah melalui Satpol PP dan Damkar Magetan berdalih tak ada laporan masuk.

Dalih aman sudah terdengar seperti tombol otomatis lift ditekan terus, bunyinya sama.

Lebih memancing geleng kepala, alasan klasik “keterbatasan personel” kembali diputar.

Dalih lama diwariskan dari kasat lama ke kasat baru, tak pernah berubah, tak pernah naik level.

“Terima kasih atas informasinya, nanti kita tertibkan,” ujar Rudi, Kasatpol PP Magetan.
Ucapan standar, aman, sopan tapi semakin terdengar seperti rekaman lama diputar ulang tiap tahun.

Padahal warga melihat sendiri tiap hari, pohon-pohon dijadikan tiang pancang banner liar.

Estetika kota rusak, pohon terluka, dan wajah Magetan makin semrawut.

Di tengah situasi ini, publik menaruh harapan besar pada Bupati Magetan pemimpin perempuan agar lebih kuat, tegas, dan berani bertindak.

Meski dulu penertiban sempat “lali-lali” alias tidak tuntas, masyarakat berharap kali ini tidak berakhir dengan alasan klasik atau janji manis.

Lebih memprihatinkan lagi, menurut informasi diterima redaksi, ada oknum ASN yang nyeletuk enteng, “Berita tidak penting.”

Komentar seperti ini justru menunjukkan bahwa sebagian aparatur masih menganggap aturan dan lingkungan sebagai hal sepele padahal mereka mestinya jadi panutan.

Magetan butuh tindakan nyata, bukan sekadar dalih.

Jika pohon saja tak mampu dilindungi, bagaimana mungkin wajah kota bisa dibuat lebih baik?

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *