SKI News
Polres Magetan Sibuk Latihan Dalmas, Massa Belum Turun Tapi Tameng Sudah Diuji

Latihan kesiapsiagaan malam hari, jajaran Polres Magetan menggelar latihan Dalmas di Mapolres. Upaya meningkatkan profesionalisme dan respons cepat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Saat keluhan warga soal keamanan masih kerap berseliweran, Polres Magetan justru tampak sibuk memanaskan barisan. Kamis (22/1/2026) pagi, halaman Mapolres Magetan disulap menjadi arena latihan Dalmas.
Tameng diangkat, formasi dirapikan, borgol digoyang meski belum jelas, massa mana yang sedang disiapkan untuk dihadapi.
Latihan rutin Pengendalian Massa (Dalmas) itu digelar sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Satuan Samapta mengerahkan Dalmas gabungan, mulai dari anggota Samapta, staf hingga Polwan.
Semua turun gelanggang, seolah Magetan sedang berada di ambang gejolak besar.
Tak hanya simulasi Dalmas, personel juga dipaksa berkeringat lewat senam borgol. Gerakan demi gerakan ditampilkan rapi, kompak, dan penuh semangat.
Sayangnya, publik masih bertanya-tanya: apakah latihan fisik ini juga dibarengi latihan kepekaan sosial?
Kasat Samapta Polres Magetan, AKP Agus Wibowo, menegaskan latihan tersebut bertujuan meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan anggota dalam menghadapi potensi gangguan kamtibmas.
“Latihan Dalmas ini untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan personel, agar siap menghadapi situasi pengendalian massa secara profesional dan terukur,” ujarnya.
Namun pernyataan itu justru memantik tanya lanjutan. Di tengah belum adanya unjuk rasa besar yang mencuat, kesiapsiagaan seperti apa yang sedang diproyeksikan.
Apakah Polres Magetan sedang membaca tanda-tanda keresahan, atau sekadar memastikan barisan tetap tegap saat kamera menyorot?
AKP Agus juga menyebut latihan ini sebagai upaya meminimalisir konflik unjuk rasa anarkis dan konflik sosial. Sebuah klaim normatif yang kerap diulang, namun jarang diiringi transparansi soal pendekatan persuasif yang lebih humanis.
Latihan boleh rutin, tameng boleh kinclong, barisan boleh rapat. Tapi publik tentu berharap, kesiapan aparat tak hanya berhenti pada otot dan formasi melainkan juga pada kepekaan membaca suara warga sebelum berubah menjadi massa.
Jurnalis: Tim Redaksi.
