Connect with us

SKI News

Magetan Viral, Bocah Ingusan Diikat, Dipukul & Ditendang Gegara Diduga Curi Pelek Truk. Republik Damai: “Sangat Disayangkan

Published

on

Republik Damai, Norman Susanto

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN..Insiden penganiayaan bocah ingusan di Lembeyan Kabupaten Magetan,Jawa Timur langsung mendapat sorotan dari Republik Damai. Penelitinya, Norman Susanto, menilai aksi tersebut sebagai bentuk kemunduran cara berpikir masyarakat.

“Kejadian ini sangat disayangkan. Anak seusia itu butuh pembinaan, bukan tendangan. Kekerasan hanya memperpanjang rusaknya mental masyarakat,” tegas Norman di awal komentarnya.

Menurutnya, dugaan pencurian oleh anak kelas 1 SMP tidak bisa serta-merta diperlakukan sebagai kejahatan profesional.

“Ini kenakalan remaja, bukan kriminal kelas kakap. Tugas orang dewasa adalah membina, bukan menghukum seenaknya,” ujarnya.

Norman juga mengingatkan bahwa karena korban masih di bawah umur, kasus pencuriannya masuk ranah pembinaan oleh sekolah atau lembaga terkait. Sebaliknya, pelaku pemukulan justru wajib diproses oleh Unit PPA sebagai dugaan tindak pidana penganiayaan terhadap anak.

Kronologi: Bocah Jadi Korban Drama Jalanan

Kamis (27/11/2025), seorang bocah ingusan, siswa kelas 1 SMP di Magetan, dituding mencuri pelek truk di sebuah bengkel. Namun alih-alih diserahkan ke aparat, bocah itu malah “didaulat” menjadi aktor utama drama jalanan: tangan diikat, tubuh dipukuli, bahkan diduga ditendang oleh pemilik bengkel.

Aksi main hakim sendiri itu terekam video dan viral lebih cepat daripada klarifikasi grup WhatsApp keluarga. Dalam rekaman, sang bocah menangis keras meminta ampun, sementara orang dewasa di sekelilingnya tampak sibuk memamerkan keberanian memarahi anak kecil—pemandangan yang membuat warganet geleng-geleng kepala.

Polisi Turun Tangan

Polres Magetan telah memeriksa saksi dan menelusuri dua perkara sekaligus:
dugaan pencurian dan dugaan penganiayaan.

Polisi kembali mengingatkan bahwa main hakim sendiri bukan budaya, bukan keberanian, dan jelas bukan solusi. Kasus kini dalam penanganan pihak berwajib.

Harapannya sederhana: insiden memalukan ini menjadi pengingat bahwa keberanian memukul anak bukan bentuk ketegasan, melainkan bukti paling telanjang dari miskinnya akal sehat.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *