Connect with us

SKI News

Magetan Jalannya Rusak Ditanami Pisang, Warga Bingung Harus Ngadu ke Siapa

Published

on

Pisang berdiri di tengah jalan rusak Desa Tapen, Lembeyan—kode keras warga agar lubang tak lagi memakan korban.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pemandangan tak biasa terlihat di ruas jalan penghubung Kecamatan Lembeyan dengan Kecamatan Ngariboyo, tepatnya di Desa Tapen.

Di tengah jalan berlubang dan tergenang air, berdiri sebatang pohon pisang.

Bukan untuk bercocok tanam. Bukan pula aksi teatrikal penuh tuntutan.

Warga menanam pisang sebagai penanda: di sini ada lubang, dan lubangnya bisa bikin celaka.

Kerusakan jalan yang cukup dalam itu kerap tak terlihat saat hujan turun. Air menggenang, menutup lubang, dan pengendara yang melintas di malam hari sering kali terjebak.

Motor oleng, kendaraan mendadak berhenti, bahkan nyaris terjatuh.

“Pisangnya baru dipasang tadi pagi. Itu cuma tanda saja supaya pengendara hati-hati,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Menurutnya, pemasangan pohon pisang bukan bentuk protes, melainkan langkah darurat agar tidak ada lagi korban. Terutama pada malam hari, ketika penerangan minim dan genangan air menipu pandangan.

Ironisnya, jalan tersebut merupakan akses penghubung antar kecamatan yang cukup vital.

Mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, hingga aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari melintas di jalur itu. Namun kondisi jalan justru seperti luput dari prioritas.

Warga mengaku sudah pernah melaporkan kerusakan tersebut. Tetapi hingga kini, belum ada perbaikan berarti.

“Kami sudah lapor. Tapi ya begitu saja,” ucap warga singkat, dengan nada kecewa.

Kebingungan pun muncul. Harus mengadu ke siapa lagi.

Jalan antar kecamatan, tetapi perbaikannya tak kunjung terlihat. Sementara risiko kecelakaan terus mengintai, terutama saat hujan dan malam hari.

Senada disampaikan seorang pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas di jalur tersebut.

Ia mengaku tak nyaman dan waswas karena sepanjang kurang lebih 7 kilometer jalan banyak yang rusak dan berlubang.

“Kalau siang masih kelihatan. Kalau malam atau habis hujan itu yang bahaya,” ujarnya.

Pohon pisang itu akhirnya bukan sekadar tanda. Ia menjadi simbol keterpaksaan warga ketika laporan tak segera berbuah tindakan, keselamatan pun dijaga dengan cara seadanya.

Jika jalan penghubung antar kecamatan harus diberi penanda darurat oleh warga, maka yang patut dipertanyakan bukan lagi siapa yang menanam pisang, melainkan siapa yang seharusnya lebih dulu bergerak

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *