SKI News
Ketum PWI Akhmad Munir: Pers Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Disrupsi & Algoritma Jadi Ancaman Nyata

Ketua PWI Umum Pusat Akhmad Munir
Suarakumandang.com,BERITA SURABAYA. Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia menjadi momentum refleksi serius bagi insan pers.
Bukan sekadar seremoni, tapi juga alarm keras atas kondisi media yang tengah menghadapi tekanan besar.
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir, secara tegas menyebut bahwa dunia pers saat ini sedang tidak baik-baik saja.
HPN sendiri diperingati setiap 9 Februari, bertepatan dengan hari lahir PWI pada 9 Februari 1946.
Di usia ke-80 tahun, PWI menjadi organisasi wartawan terbesar di Indonesia dengan jaringan hingga hampir seluruh kabupaten/kota dan jumlah anggota mencapai sekitar 50 ribu orang.
“Struktur kita besar dan kuat. Tapi tantangan yang kita hadapi hari ini juga luar biasa kompleks,” tegas Akhmad Munir.
Menurutnya, disrupsi teknologi telah mengubah total lanskap media.
Arus informasi di platform digital dan media sosial begitu cepat, namun seringkali minim verifikasi.
Kondisi ini menggerus posisi media sebagai sumber utama informasi publik.
“Di tengah banjir informasi, pers harus tetap jadi rujukan. Kuncinya satu: kualitas,” jelas Munir.
Ia menegaskan, produk jurnalistik harus tetap mengedepankan akurasi, verifikasi, kejujuran, dan nilai manfaat.
Jika tidak, media akan kehilangan kepercayaan publik.
Selain itu, tantangan besar juga datang dari sisi bisnis. Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, terutama di era algoritma, memaksa media untuk beradaptasi cepat.
“Kalau tidak mampu menyesuaikan, model bisnis media akan tertinggal. Ini realita yang harus dihadapi,” kata Akhmad Munir.
Tak berhenti di situ, tekanan internal juga makin kuat. Banyaknya media baru dan terbatasnya kue iklan membuat persaingan semakin ketat.
Dalam situasi ini, jurnalisme berisiko terseret kepentingan bisnis dan politik.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga komitmen terhadap kode etik jurnalistik.
“HPN ini harus jadi refleksi. Pegang teguh kode etik. Dari situlah kita menjaga marwah pers dan tetap profesional,” tegasnya.
Di usia ke-80, Persatuan Wartawan Indonesia dihadapkan pada tantangan zaman yang tidak ringan.
Bertahan saja tidak cukup pers harus adaptif, inovatif, tapi tetap berintegritas.
HPN 2026 pun menjadi pesan jelas: pers harus berubah, tanpa kehilangan arah.
Jurnalis: Cahyo Nugroho.
