Dinda Bogorejo: Aku Pingin Sekolah Biar Pinter

Dinda Putri Aprilia

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Adalah Dinda Putri Aprilia seorang bocah berumur 6 tahun mengalami sakit lumpuh sejak usia 8 bulan. Terlihat ceria ketika teman sebayanya datang kerumahnya. Dengan sigap menyeret kedua kakinya yang terlihat lemas menuju teras rumah untuk menemui teman-temannya.

Ada lima rantang mainan dan satu sendok  berukuran mini terbuat dari plastic  yang berserakan diteras rumahnya sedang dimainkan seperti layaknya seorang peran wanita sibuk di dapur.

Di isi pasir dari runtuhan lantai yang rusak bersama teman sebayanya seakan-akan komunikasi seperti layaknya seorang wanita sedang melakukan kegiatan masak memasak. “Saya mau masak sayur,” kata Dinda dengan ceria menjawab pertanyaan dari temannya, Kamis (10/10/2019).

Tak lama kemudian Siswanto (21)  yang tak lain adalah kakak Dinda datang.Dia habis mengantarkan ibunya berobat ke pukesmas. Karena masih antri terpaksa Siswanto pulang dulu untuk menjaga Dinda.

Hari ini dia tidak masuk kerja sebagai buruh konveksi agar bisa mengantar ibunya berobat di pukesmas.Kegiatan rutin tersebut dilakukan setiap seminggu sekali.

“Ibu habis dioperasi kakinya karena luka akibat diabetes. Luka di kakinya sudah mulai pulih. Tadi masih ngantri saya tinggal pulang jagain Dinda,” katanya.

Siswanto anak pertama dari pasangan Sutopo (almarhum) dan Suminah warga Desa Bogorejo, Dusun Barat,  RT 17, RW 03 , Kecamatan Barat, Kabupoaten Magetan, Jawa Timur menceritakan keadaan Dinda mulai mengalami lumpuh berawal sakit panas saat umur 8 bulan.

“Dulu waktu bapak masih ada, memilih memijatkan Dinda karena kebiasaan sejumlah warga Bogorejo seperti itu,”ungkapnya.

“Biar ada papan beroda, itu diberi sama seseorang agar mudah bergerak, tapi nggak juga dipakai. Ada juga kursi roda dari tetangga juga enggak dipakai. Dia lebih suka ngesot,” ujar Siswanto.

“Dinda seperti anak kecil  lainnya, ceria, aktif dan sering minta tetah untuk belajar jalan saat minta sesuatu,” imbuh Siswanto.

Pasca dipijat, kedua kaki Dinda seperti lemas dan tidak sanggup menahan badannya yang mungil saat ditetah untuk belajar berjalan. Keadaan tersebut berlanjut sampai saat ini, sehingga untuk beraktifitas Dinda lebih banyak dibantu.

Meski mengalami lumpuh layu, Dinda masih sempat mengikuti PAUD dengan diantar jemput oleh bapak maupun ibunya. Namun ditengah semangatnya bermain dan belajar di Paud, Ibunya tiba tiba harus menjalani operasi luka di kaki akibat sakit diabetes.

Tak lama kemudian ayahnya Sutopo meninggal dunia. Tidak adanya tulang punggung keluarga di saat ibunya sakit diabetes membuat tangung jawab mencari nafkah bergantung kepada Siswanto. Akibat kejadian beruntun tersebut membuat sekolah Dinda terabaikan.

Parlan tetangga korban mengutarakan bahwa kehidupan keluarga almarhum Sutopo sangat memprihatinkan. “Selama ini tulang punggung keluarga dirumah itu  adalah Siswanto yang bekerja di pabrik sebagai buruh konveksi,”kata Parlan pemilik warung di pertigaan desa Bogorejo.

“Bapaknya sudah meninggal, kalau tidak salah sakit strok. Meninggalnya kapan saya kurang tahu pasti, tapi yang jelas belum ada 100 harinya,”katanya.

Saat memegang rantang dan sendok mainan yang terbuat plastic Dinda Bogorejo cekatan menciduk tanah dari ceruk lantai semen rumahnya yang telah rusak.Saat ditanya cita-cita Dinda Bogorejo dengan  lantang menjawab “Ingin menjadi dokter” .Kenapa, jawab Dinda karena ingin menolong orang tua, menolong orang sakit, menolong semualah.

Meski baru berusia 6 tahun Dinda  tahu jika untuk menggapai cita citanya menjadi dokter dia harus sekolah. Dengan keadaannya tersebut Dinda berharap ada orang yang baik hati yang membantu kebutuhannya bisa sekolah seperti anak anak lainnya.Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.