Connect with us

SKI News

Desa ini Berhasil Kembangkan Sistem Gaduh Sapi di Ngawi

Published

on

Warga desa Bendo pamerkan sapi miliknya buah dari menggaduh embrio sapi bantuan Disnak Ngawi ( 23/11/2019). Foto : Ahmad Hakimi

Suarakumandang.com, BERITA NGAWI. Selagi saat ini banyak desa di Kabuoaten Ngawi berlomba mendirikan Badan Usaha Milik Desa ( BUMDES), bergantung dari kucuran dana desa, namun desa yang satu ini 12 tahun yang lalu telah telah melangkah lebih dahulu untuk membuat sistem unit usaha desa yang dikelola secara mandiri oleh pemerintahan desanya.

Desa ini adalah desa Bendo kecamatan Padas, telah berhasil mengelola sistem pengembangbiakan sapi atau pola gaduh dari desa untuk masyarakatnya.

Berawal dari Kepala Desa Bendo Agoes Seputro, yang melihat potensi kelokalan yang dimiliki desanya, yaitu ternak sapi. Karenanya begitu ada tawaran dari pemerintah untuk embrio pengembangan sapi, maka tanpa berpikir panjang ia pun  mengambil program itu.

Sistem gaduh yang dimaksud adalah menitipkan indukan sapi kepada warga dengan bagi hasil berupa anak sapi pertama akan diambil desa untuk di kembangkan kepada warga desa yang lain dalam bentuk lelang. Dan anak sapi kedua menjadi hak milik warga yang dititipi tadi. Begitu seterusnya.

“Peternak awal yang menjadi penggaduh ditentukan berdasarkan sistem lelang, yang kemudian berhak memelihara sapi tersebut, dengan ketentuan anak pertama harus diserahkan ke desa untuk digaduhkan kepada peternak lain, anak kedua bagiannya penggaduh, anak ketiga diserahkan lagi ke desa untuk digaduhkan serta anak keempat menjadi milik penggaduh” papar Agoes Seputro.

Dari pertama kali sebanyak 15 ekor embrio dari pemerintah, kini sudah 57 ekor berhasil diputarkan dengan pola gaduh. Jumlah tersebut diluar yang dimiliki oleh para warga buah dari menggaduh sapi milik pemerintah tersebut, karena banyak diantaranya yang dijual untuk kebutuhan hidup.

Untuk jenis sapi yang digaduh adalah sapi brahman, yang kualitasnya tidak diragukan, berukuran besar, tahan terhadap sejumlah penyakit serta daya pertumbuhan yang relatif cepat.

Desa Bendo sendiri cukup berprospek untuk peternakan sapi tersebut, selain masyarakat yang sebagian besar adalah petani, sumber bahan pakan untuk sapi sendiri cukup melimpah, yaitu berupa damen atau sisa pertanian padi.

Selanjutnya diharapkan Pemerintah kembali memberikan hibah sapinya, mengingat masih banyak warga yang ingin memelihara sapi dengan sistem gaduh tersebut.

Sedangkan untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan serta memastikan sistem gaduh berjalan sebagaimana mestinya dan tidak macet, pihak desa harus melaporkan secara berkala kepada Dinas peternakan setempat.

Jurnalis: Ahmad Hakimi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.