Budaya Sambatan, Kearifan Lokal Masyarakat Desa Pomahan Ponorogo

Suarakumandang.com,BERITA PONOROGO. Kabupaten  Ponorogo begitu banyak menyimpan warisan budaya dan tradisi leluhur yang adiluhung. Mulai dari semacam bersih desa, kesenian tradisonal dan budaya sosial kemasyarakatan seperti sambatan dan kerja bakti lingkungan yang biasa disebut gotong royong.

Tradisi sambatan atau gotong royong mendirikan rumah warga di desa Pomahan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur masih sangat kental di lakukan masyarakat desa setempat.

Seperti warga desa Pomahan yang sedang gotong royong membantu mendirikan rumah milik Sumarwan.”Tradisi gotong royong ini sudah merupakan tradisi budaya sosial di masyarakat desa Pomahan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi,”ujar Sukariyadi ketua RT 1 dusun Krajan.

“Ini namanya sambatan.Sambatan sendiri  berasal dari kata sambat yang secara harfiah berarti mengeluh. Namun dalam arti luas, sambatan merupakan sistem gotong royong  antar warga dalam rangka membantu sesama yang sedang tertimpa musibah atau sedang melakukan pekerjaan besar seperti membangun rumah, hajatan, panen dan lain-lain,”kata Sukariyadi.

Seperti pantuan suara kumandang, sedikitnya ada kurang lebih 50 warga yang membantu mendirikan rumah milik Sumarwan. Mereka ada yang melakukan pengecatan genteng, mangangkat gawang kayu, mengangkut genting ketempat yang lebih dekat dengan rumah, dan masih banyak lainnya.

Seperti yang diketahui sambatan gotong royong membantu membangun rumah biasanya hanya pada awal membuat pondasi dan diakhir menaikan gawang dan pemasangan genteng.”Tradisi gotong royong tersebut diawali dengan selamatan yang dihadiri warga desa setempat,”terangnya.

Dijelaskan pula, dalam hal ini sambatan tidak mengandung nilai materi namun  rasa kekeluargaan sebagai dasar melakukan pekerjaan sosial dengan bergotong-royong membantu sesamanya. “Budaya sambatan  merupakan wujud kepedulian pada sesama,”ucapnya.

Sukriyadi mengatakan Sambatan adalah kegiatan gotong-royong yang ditujukan bagi individu atau perorang. Berbeda dengan Gerubuhan yaitu kegiatan gotong royong yang ditujukan pada lingkungan seperti kerjabakti membangun jalan,  mendirikan pos ronda, renovasi balai pertemuan dan masih banyak contoh lainnya.

Sukriyadi berharap tradisi gotong royong yang diwariskan oleh leluhur dijaga dengan baik. Karena tradisi gotong royong merupakan tradisi orang Indonesia.

“Jika jaman dulu gotong royong menjadi nafas dalam keseharian masyarakat sekedar untuk bertahan hidup, tapi  kini mereka bergotong royong untuk menjaga tradisi leluhur di tengah gempuran modernitas yang kian pesat,”paparnya.

Sukriyadi menjelaskan kegiatan sambatan atau gotong royong  di jaman sekarang sudah mulai unik bahkan sudah jarang ditemukan di masyarakat pedesaan saat ini.

Jaman sudah berubah .” Era kapitalisme tidak saja merubah perilaku masyarakat perkotaan namun menular hingga ke masyarakat pedesaan. Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan harus diukur dengan sejumlah nilai materi atau uang,”sedihnya.

Dikatakan, sekilas kata-kata  “gotong royong”  hanya terlihat seperti suatu hal yang mudah dan sederhana. Namun dibalik kesederhanaannya tersebut, gotong royong menyimpan berbagai nilai yang mampu memberikan nilai positif bagi masyarakat. Nilai-nilai positif dalam gotong royong antara lain kebersamaan, Persatuan, rela berkorban, Tolong Menolong dan sosial.Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.