Connect with us

SKI News

Longsor Telaga Sarangan Tak Kunjung Jinak, PDI Perjuangan Semprot Pemkab Magetan Imbauan Tak Menahan Longsor, Nyawa Jadi Taruhan

Published

on

Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Longsor di kawasan wisata Telaga Sarangan kembali terjadi. Bukan sekali, bukan dua kali. Dan ironisnya, setiap kejadian selalu diiringi kalimat klasik: “masyarakat diminta waspada.” Namun bagi PDI Perjuangan Magetan, waspada saja jelas tak cukup ketika tanah sudah bergerak dan nyawa manusia berada di tepi bahaya.

Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa, melontarkan kritik tajam kepada Pemerintah Kabupaten Magetan menyusul longsor yang terjadi pada Kamis (15/1/2026) dan Sabtu (17/1/2026).

Ia menilai penanganan kawasan Sarangan masih terlalu normatif, lamban, dan seolah menunggu kejadian berikutnya untuk kembali bereaksi.

“Kalau setiap hujan deras Sarangan jadi ancaman, lalu apa bedanya kawasan wisata dengan zona uji nyali? Jangan biasakan publik hidup dengan risiko,” sentil Diana.

Menurutnya, Sarangan bukan hanya soal kunjungan wisata dan retribusi, tetapi juga soal tanggung jawab negara dalam melindungi warga dan pengunjung.

Ia menegaskan, keselamatan tidak bisa dikelola dengan pola reaktif, apalagi hanya lewat imbauan tanpa pengamanan nyata di lapangan.

Sebagai langkah mendesak, Diana meminta Pemkab Magetan segera membentuk Satgasus Sarangan Aman, satuan tugas khusus yang bekerja 24 jam penuh selama musim hujan.

Satgasus ini, kata dia, harus memiliki komando tunggal dan kewenangan mengambil keputusan cepat, bukan sekadar forum rapat lintas OPD.

“Satgasus jangan hanya jadi papan nama. Kalau hujan deras turun tengah malam, harus ada petugas di lapangan, bukan menunggu laporan viral dulu,” tegasnya.

Tak kalah tajam, Diana juga menyoroti absennya kebijakan buka–tutup jalur rawan longsor yang tegas dan konsisten.

Ia menilai selama ini arus wisata dibiarkan mengalir tanpa perlindungan fisik yang memadai, seolah risiko bisa dinegosiasikan demi kelancaran lalu lintas dan ekonomi sesaat.

“Buka–tutup itu bukan pilihan, tapi keharusan. Lebih baik wisatawan kecewa karena menunggu, daripada keluarga pulang membawa kabar duka,” katanya lugas.

Selain itu, PDI Perjuangan Magetan juga mendesak audit menyeluruh terhadap drainase dan saluran air yang mengarah ke lereng Sarangan.

Diana menyebut, buruknya sistem drainase kerap menjadi pemicu senyap diabaikan hingga longsor benar-benar terjadi.

“Kalau air dibiarkan merembes tanpa kendali, longsor itu hanya soal waktu. Jangan pura-pura kaget saat tanah runtuh,” ujarnya tajam.

Sebagai bentuk keseriusan, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan menyatakan siap mengawal dan mengoreksi kebijakan OPD teknis yang dinilai lamban atau saling lempar tanggung jawab.

Diana juga mendorong adanya laporan harian terbuka agar publik tahu apa yang dikerjakan pemerintah, bukan hanya apa yang direncanakan.

“Transparansi itu obat malas. Kalau setiap hari dilaporkan ke publik, kerja tidak bisa sembunyi di balik meja,” sindirnya.

Menutup pernyataannya, Diana mengajak masyarakat untuk tidak ragu melapor jika melihat tanda-tanda bahaya di sekitar Sarangan.

Ia menegaskan, keselamatan publik tidak boleh kalah oleh agenda seremonial dan target kunjungan.

“Wisata boleh dijual, tapi nyawa jangan dijadikan risiko promosi. Sarangan harus aman, bukan sekadar ramai,” pungkasnya.

jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *