SKI News
Longsor Telaga Sarangan: Alarm Keras Menusuk Jantung Pariwisata Magetan

Willing Suyono (Kanan duduk) Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan, turun langsung meninjau lokasi longsor Telaga Sarangan bersama BPBD dan Dinas Pariwisata. Alarm ekologis sudah berbunyi keselamatan wisata dan tata kelola lingkungan tak bisa lagi ditunda.
Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Longsor di kawasan Telaga Sarangan Kamis (15/1/2026) lalu, bukan sekadar musibah alam lewat lalu dilupakan.
Ini alarm ekologis berdentang keras, menusuk jantung pariwisata Magetan.
Sebuah peringatan bahwa ada keliru dalam cara manusia memperlakukan alam, dan kesalahan itu kini menagih harga mahal.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Magetan, Willing Suyono, turun langsung meninjau lokasi bencana.
Pesannya tegas dan tidak berputar-putar: longsor Sarangan bukan kebetulan, melainkan buah dari persoalan tata kelola lingkungan yang dibiarkan menumpuk terlalu lama.
“Ini bukan hanya soal hujan deras. Ini soal bagaimana kawasan Sarangan dikelola,” tegas Wiling.
Sarangan, kata Willing, bukan ruang bebas yang bisa ditambal sulam sesuka kepentingan. Ia adalah kawasan wisata alam, kawasan bersejarah, sekaligus cagar budaya.
Jejak bangsa Belanda, Jerman, Rusia, hingga tokoh bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta pernah berkontemplasi di Sarangan sebelum kemerdekaan, bukan sekadar cerita romantik masa lalu.
Itu warisan tak ternilai seharusnya dijaga, bukan dipertaruhkan.
Namun realitas di lapangan justru menyodorkan tanda tanya besar. Alih fungsi lahan di kawasan Sarangan dan lereng Gunung Lawu kian masif.
Kawasan seharusnya menjadi daerah resapan air perlahan berubah menjadi rumah makan, vila, dan destinasi wisata instan.
Alam ditekan untuk terus memberi, sementara daya dukungnya diabaikan.
Penanggulangan banjir dan longsor, lanjut Willing, tidak boleh kalah oleh ambisi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Tegakan pohon besar harus dijaga, bukan diganti beton tanpa kendali.
Jika pendekatan vegetatif tak lagi cukup menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstrem, maka langkah teknis wajib diperkuat.
Mulai dari memastikan drainase bangunan lama tetap berfungsi maksimal, saluran air tersambung dengan pembuangan utama menuju sungai atau telaga, hingga memastikan setiap warung dan bangunan wisata memiliki sistem drainase yang layak.
Lereng-lereng labil harus segera diperkuat dengan talud, karena keselamatan tidak boleh menunggu rapat panjang.
Lebih jauh, Willing mengingatkan pentingnya sinergi tiga pilar utama: Perhutani, BBWS Bengawan Solo, dan Pemerintah Kabupaten Magetan.
Kawasan Sarangan tidak boleh dikelola dengan ego sektoral.
Jangan sampai Sarangan hanya diperlakukan sebagai mesin PAD, sementara tanggung jawab perlindungan lingkungan dan keselamatan manusia dikesampingkan.
“Sarangan adalah wajah Magetan. Dikenal nasional hingga mancanegara karena alam dan udaranya. Tapi di balik pesona itu, ada sejarah dan ekologi yang tak boleh dikorbankan,” ujar Wiling.
Ia juga menyoroti minimnya kajian KLHS, pengelolaan sampah belum serius, serta lemahnya kontrol pembangunan.
Kombinasi inilah yang memicu apa yang ia sebut sebagai ‘amarah alam’ banjir dan longsor yang kini datang nyaris rutin setiap musim hujan.
Jika dibiarkan, Sarangan bukan lagi ikon wisata, melainkan momok tahunan.
Sebagai sikap politik dan tanggung jawab moral, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Magetan mendorong langkah konkret: penghentian sementara alih fungsi hutan, penegakan tata ruang lintas sektor, pemetaan titik rawan bencana, aksi teknis cepat di lapangan, penguatan SDM kebencanaan, pengamanan konstruksi beton di tebing rawan longsor sepanjang ±300 meter, serta relokasi warung UMKM secara humanis dan adil, tanpa mematikan napas ekonomi rakyat kecil.
“Pariwisata tidak cukup hanya menjual keindahan, tapi harus menjamin keselamatan. Ketahanan ekologis bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Jangan sampai Magetan yang indah hanya tinggal cerita untuk anak cucu kita,”terang Willing, mengutip amanat Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Longsor Sarangan telah berbicara. Pertanyaannya kini: siapa yang mau benar-benar mendengar, dan siapa yang masih sibuk menutup telinga.
Jurnalis: Tim Redaksi.
