Connect with us

SKI News

3 Tahun Dibiarkan Rusak, Warga Nekat Perbaiki Jembatan Satu-satunya Demi Anak Sekolah

Published

on

Tiga tahun jembatan rusak tanpa perhatian pemerintah. Warga dan pengendara terpaksa bertaruh nyawa karena ini satu-satunya akses penghubung.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO, Negara boleh sibuk berbicara soal bonus demografi dan generasi emas. Namun di Desa Wagir Kidul, Kecamatan Ngebel, masa depan itu justru dipertaruhkan di atas papan rapuh, membentang di atas jurang sedalam 30 meter.

Sebuah video viral di media sosial kembali membuka borok lama yang tak pernah sembuh. Anak-anak sekolah dipaksa bertaruh nyawa demi bisa berangkat belajar, menyeberangi jembatan nyaris putus yang dibiarkan rusak selama tiga tahun tanpa kepastian perbaikan.

Jembatan sepanjang kurang lebih 20 meter yang menghubungkan Desa Wates, Kecamatan Jenangan, dengan Desa Wagir Kidul, Kecamatan Ngebel, kini bukan lagi infrastruktur. Ia berubah menjadi arena uji nyali tempat salah pijak berarti celaka.

Ambrol sejak tiga tahun lalu, jembatan ini tak lagi bisa dilalui kendaraan roda dua, apalagi roda empat.

Padahal, inilah jalur utama ratusan anak menuju sekolah, sekaligus urat nadi pergerakan ekonomi warga.

Dalam video yang beredar luas, terlihat anak-anak kecil menyeberang dengan wajah tegang.

Sejumlah orang tua bahkan terpaksa menggendong anaknya, agar tidak terperosok ke sungai di bawah. Di bagian tengah jembatan, lebar jalur tersisa hanya sekitar 20 sentimeter. Tipis. Licin. Mematikan.

“Kalau nggak digendong, anak-anak takut lewat. Jalannya putus total, tinggal segitu lebarnya,” ujar Gunarto, warga Desa Wagir Kidul, dengan nada getir.

Penyebabnya jelas: longsor yang terus menggerus tanah penyangga jembatan, tanpa pernah ada sentuhan perbaikan serius dari pemerintah.

Yang membuat warga makin geram, pejabat disebut sudah berkali-kali meninjau lokasi.

Datang, lihat, foto, lalu menghilang. Tak ada alat berat. Tak ada proyek. Tak ada solusi. Yang tersisa hanya janji yang ikut lapuk bersama beton jembatan.

Akhirnya, warga bergerak sendiri. Selasa siang (13/1/2026), jembatan diperbaiki ala kadarnya sekadar agar sepeda motor dan anak-anak sekolah bisa melintas.

“Baru kemarin diperbaiki warga. Sebelumnya kalau nganter anak sekolah ya jalan kaki, motor nggak bisa,” kata Winarsih, pengguna jalan. Jaraknya? Lumayan jauh. Repot? Jelas. Tapi apa daya, negara sedang sibuk entah di mana.

Akibat jembatan nyaris putus ini, kendaraan roda empat ke atas harus memutar lebih dari 20 kilometer, melewati jalur berkelok, naik-turun pegunungan.

Biaya bertambah, waktu terbuang, risiko meningkat. Namun semua itu tampaknya belum cukup menyentil nurani pihak berwenang nyaman di balik meja empuk.

Kini warga hanya bisa berharap pemerintah sedikit membuka mata jika masih ada. Sebab bila dibiarkan, longsoran akan makin parah dan mengancam permukiman warga di sekitarnya.

Dan jika suatu hari ada korban jiwa, jangan buru-buru memasang karangan bunga atau mengucap duka cita.

Kerusakan ini sudah berteriak minta diperbaiki sejak tiga tahun lalu.

Catatan Suarakumandang:
Jika anak-anak harus mempertaruhkan nyawa demi sekolah, maka yang runtuh bukan hanya jembatan tetapi juga rasa malu penguasa yang memilih diam.

Jurnalis: Tim redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *