Connect with us

SKI News

Getuk Goreng di Atas Awan, Hangatnya Bikin Betah di Tengah Pinus Sooko

Published

on

Menikmati getuk goreng hangat bertiga di tengah sejuknya hutan pinus Sooko, Ponorogo, sambil menikmati suasana pegunungan.

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Berada di kawasan pegunungan Sooko, Ponorogo, menikmati getuk goreng hangat sambil ditemani hawa dingin dan hamparan hutan pinus menjadi pengalaman kuliner berbeda.

Warung Tengah Alas di Desa Jurug, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, berada sekitar 650 meter di atas permukaan laut. Lokasinya berada di kawasan perbatasan Ponorogo-Trenggalek.

Menu andalan berupa getuk goreng menjadi daya tarik utama. Getuk dibuat berbentuk panjang melingkar, kemudian diiris tipis dan digoreng secara dadakan saat pembeli memesan.

Teksturnya empuk dan lembut, sementara bagian luar terasa gurih. Getuk goreng hangat juga cocok disantap bersama kopi hitam dalam suasana pegunungan.

Tak sedikit pembeli rela menempuh perjalanan cukup jauh untuk menikmati kuliner tersebut. Agustin Dwi Hanifah, warga Kota Ponorogo, misalnya, mengaku membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan untuk sampai ke lokasi.

“Di sini dingin, kita makan getuk goreng hangat-hangat rasanya syahdu. Empuk, lembut, enak, gurih, beda dari getuk kebanyakan di Ponorogo kota. Cocok dipadukan dengan kopi dan getuk goreng,” ujar Agustin.

Menurutnya, suasana tengah hutan pinus menjadi daya tarik tambahan. Pengunjung bisa menikmati makanan sekaligus memanjakan mata dengan panorama pegunungan.

Sementara itu, penjual getuk goreng, Pipit Muasih, mengatakan resep getuk masih dipertahankan sejak usaha tersebut dirintis sekitar 10 tahun lalu. Ia juga tetap menggunakan jenis singkong tertentu untuk menjaga cita rasa.

Menu di warung tersebut tidak hanya getuk goreng. Ada pula getuk lonjor, nasi pecel, serta aneka gorengan.

“Menu andalannya getuk goreng dan getuk lonjor. Saya memilih getuk goreng karena belum banyak penjual lain di sini. Respons pembeli banyak suka,” kata Pipit.

Tingginya permintaan bahkan membuat Pipit beberapa kali kewalahan. Dalam sehari, pesanan bisa mencapai sekitar 200 potong, sementara kemampuan produksi maksimal sekitar 300 potong.

“Kalau akhir pekan bisa lebih banyak,” tambahnya.

Dalam kondisi normal, warung tersebut mampu menjual sekitar 200 potong getuk goreng per hari. Saat akhir pekan, penjualan dapat mencapai 400 potong.

Harga cukup ramah kantong. Satu potong getuk goreng dibanderol Rp1.000.

Bagi wisatawan maupun warga sekitar, Warung Tengah Alas bisa menjadi pilihan menikmati kuliner khas pedesaan sambil merasakan udara sejuk pegunungan Sooko.**

Jurnalis:Priyam.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *