SKI News
SK Baru Turun, Sudah Merapat ke Bank? Sundarto: Jangan Jadi P3K Gajinya Masuk Sebelah, Keluar Buat Cicilan

Ketua PGRI Kabupaten Magetan Sundarto.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN “Dapat SK jangan buru-buru gadaikan ke bank atau koperasi!” Begitu peringatan tegas Ketua PGRI Kabupaten Magetan, Sundarto, saat ditemui suarakumandang.com, Rabu (11/6/2025)lalu.
Menurutnya, status P3K bukan tiket euforia, apalagi alasan mendadak hidup ala pejabat. Di balik surat keputusan itu, ada beban profesionalisme yang justru harus naik kelas.
“Jangan merasa sudah jadi pegawai lalu berhenti belajar. Justru sekarang waktunya menunjukkan kualitas,” ujarnya.
Sundarto kemudian menyoroti fenomena klasik yang selalu berulang: SK turun hari ini, besok antre di bank. Gadai, kredit, terjebak cicilan.
“Jangan tergesa-gesa. Jangan sampai gaji yang sudah layak itu habis sebelum sempat dipegang. Nanti kembali hidup seperti honorer kerja sambil ngos-ngosan mikir cicilan,” sindirnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan penghasilan bukan alasan berubah menjadi hedon sesaat.
“Dulu gaji kecil bisa sabar, sekarang gaji besar malah boros. Ingat masa tua, ingat pendidikan anak-anak,” tegasnya.
Negara, lanjutnya, membutuhkan guru yang semangat dan fokus mengajar, bukan yang tertekan karena jeratan kredit.
Meski begitu, Sundarto menegaskan dirinya tidak anti terhadap peningkatan taraf hidup. Mau beli motor baru, mobil, atau rumah pun sah-sah saja.
“Asal pakai kalkulator, bukan pakai nafsu. Kalau operasionalnya bikin megap-megap, lebih baik dipikir ulang. Jangan sampai gaya lebih tinggi dari gaji,” pesannya.
Ia menutup peringatan itu dengan nada tajam namun menyejukkan:
“Gunakan gaji dengan bijak. Rencanakan masa depan. Jangan sampai masa depan bangsa terganggu cicilan konsumtif gurunya.”
Gaya bicaranya tetap tenang, namun setiap kalimat menyentil tepat sasaran.
Sementara itu, kasus-kasus terlilit utang akibat gaya hidup tak terkendali sudah banyak terjadi. Awalnya terlihat sepele, namun akhirnya merusak ketenangan hidup hingga mengganggu pekerjaan.
Pesan moral ini menjadi penting—not untuk menghakimi, tetapi mengingatkan bahwa hidup bukan soal gengsi, melainkan keseimbangan.
Apalagi, masa depan anak-anak sebagai generasi emas bangsa juga dipertaruhkan. Ketika orang tua bijak mengelola keuangan, mereka bukan hanya menjaga diri sendiri, tetapi sedang menyiapkan fondasi kuat bagi masa depan putra-putri yang kelak menjadi tumpuan negeri.
Jurnalis: Tim Redaksi
