Connect with us

SKI News

Lebaran 2026 Paling Sepi Banget, Sepatu Kulit Magetan Drop 20 Persen

Published

on

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Momen Lebaran 2026 yang biasanya jadi “ladang cuan” bagi pelaku usaha, kini justru terasa hambar.

Industri sepatu kulit khas Magetan mengalami penurunan drastis, bahkan nyaris tanpa pembeli.

Penurunan penjualan disebut mencapai sekitar 20 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha selama ini mengandalkan momentum Lebaran.

Kondisi tersebut terlihat di deretan ruko sepatu kulit di Jalan Sawo, Kelurahan Selosari, Magetan. Kawasan dulunya dipadati pembeli kini tampak lengang.

Eko Pratianto, pemilik Toko Praktis berada di kawasan tersebut, mengungkapkan masa kejayaan usaha sepatu kulit terjadi sebelum pandemi Covid-19.

Saat itu, lonjakan pembeli bahkan terlihat dari panjangnya antrean kendaraan.

“Dulu sebelum Covid-19, parkiran kendaran bisa sampai sepanjang 200 meter. Sekarang tinggal tiga perempatnya saja, itu pun tidak penuh. Tahun ini paling parah dalam sejarah,” ujarnya, Minggu, (13/3/2026).

Sejak dua minggu menjelang Hari Raya Idul Fitri, aktivitas pembelian terlihat lesu dan jauh dari ramainya tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, kondisi tahun ini disebut sebagai titik terendah pernah dialami.

“Kalau dulu dua minggu sebelum Lebaran sudah ramai. Setelah pandemi mulai turun, dan tahun 2026 ini sepi total, hampir tidak ada pembeli,” tambahnya.

Menurut Eko Pratianto, melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi global menjadi faktor utama.

Masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan sekunder seperti sepatu kulit.

Di sisi lain, pelaku usaha juga terjepit perubahan pola belanja ke platform digital.

Persaingan di pasar online semakin ketat dan tidak mudah diimbangi oleh pelaku usaha lokal.

“Persaingan di online berat. Kami sudah coba masuk ke penjualan digital, memang ada peningkatan, tapi tetap saja kewalahan bersaing,” jelasnya.

Fenomena turunnya daya beli juga tercermin dari perilaku konsumen.

Anna, salah satu pengunjung, mengaku datang hanya untuk membeli sepatu karena kebutuhan mendesak.

“Saya beli sepatu kantor karena di rumah sudah rusak. Habis itu langsung pulang, tidak lihat-lihat yang lain. Tahun ini ekonomi memang lagi tidak baik, jadi beli seperlunya saja,” kata Anna.

Kondisi ini berdampak langsung pada sektor produksi. Sejumlah pengrajin terpaksa mengurangi produksi karena stok menumpuk dan belum terserap pasar.

Padahal, industri sepatu kulit merupakan salah satu ikon kerajinan unggulan Magetan selama ini menjadi penopang ekonomi daerah serta menyerap banyak tenaga kerja.

Jika situasi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi, bukan tidak mungkin pelaku usaha kecil akan bertumbangan.

Para pelaku usaha berharap ada langkah konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk promosi produk lokal maupun pendampingan pemasaran digital agar mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi dan ketatnya persaingan.

“Harapannya ada solusi nyata. Kalau terus seperti ini, bisa-bisa banyak gulung tikar,” pungkas Eko Pratianto.