Connect with us

SKI News

Container Toilet Disulap Jadi Kanvas Budaya, Seniman Ponorogo Kampanyekan Jaga Alam Lewat Mural

Published

on

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Siapa bilang kampanye menjaga lingkungan harus selalu lewat spanduk atau imbauan di media sosial.

Di Ponorogo, pesan cinta alam justru hadir lewat sapuan kuas warna-warni di sebuah container toilet.

Container toilet yang sebelumnya tampak kusam dan kurang menarik kini berubah total menjadi karya seni mural bernuansa budaya lokal.

Kreasi tersebut digarap oleh Komunitas Cokro Sketsa Ponorogo bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ponorogo.

Setiap sisi container dihiasi lukisan yang memadukan pesan pelestarian lingkungan dengan kekayaan budaya Bumi Reog.

Salah satu mural menampilkan tokoh legendaris Klono Sewandono yang seolah mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan dan merawat alam sekitar.

Pendiri Komunitas Cokro Sketsa Ponorogo, Kukuh Pal, mengatakan mural dipilih sebagai media kampanye karena dinilai lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

“Cara kami berkampanye ya melalui lukisan atau mural. Harapannya masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan sekaligus lebih mengenal budaya asli Ponorogo,” ujarnya saat menyelesaikan lukisan, Kamis (4/6/2026)..

Tak hanya mengangkat tema lingkungan, para seniman juga menghadirkan mural pedagang sate dengan busana khas Ponoragan.

Menurut Kukuh, detail tersebut sengaja ditampilkan sebagai bentuk edukasi budaya kepada masyarakat.

“Jangan salah arti, baju merah putih yang digambar itu merupakan pakaian khas Ponoragan, bukan pakaian adat Madura,” jelasnya.

Rencananya, container toilet yang telah dipercantik dengan mural tersebut akan ditempatkan di area dekat kursi VIP Festival Nasional Reog Ponorogo di panggung utama Alun-Alun Ponorogo mulai 6 hingga 15 Juni mendatang.

Sementara itu, Rahmat Septian, staf Bidang Pengelolaan Sampah dan Pertamanan DLH Ponorogo yang turut terlibat dalam proses pengecatan, menyebut pengerjaan mural membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Menurutnya, karya tersebut tidak hanya menjadi sarana edukasi lingkungan, tetapi juga dapat mendukung perkembangan ekonomi kreatif daerah.

“Butuh waktu sekitar 10 hari untuk menyelesaikan mural ini. Semoga bisa menjadi media edukasi sekaligus wadah pengembangan ekonomi kreatif. Apalagi Ponorogo kini menjadi bagian dari jaringan UCCN UNESCO,” pungkasnya.*..

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *