SKI News
Belajar Disiplin dari Keluarga Belanda

Suprawoto bersama istri dan cucunya bermain bersama di ruang keluarga rumah di Belanda, menikmati kehangatan kebersamaan lintas generasi.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Kehidupan keluarga di Belanda menyimpan banyak perbedaan menarik dibandingkan dengan Indonesia. Mulai dari cara membangun rumah tangga, pola pendidikan anak, budaya membaca, kebersihan lingkungan, hingga kebiasaan bersepeda, semuanya memberikan pelajaran tentang kedisiplinan dan keteraturan.
Pengalaman tersebut diceritakan Suprawoto melalui tulisan perjalanan bertajuk Liburan ke Belanda: Keluarga Belanda. Selama berada di Belanda, ia mengamati langsung kehidupan keluarga anaknya, termasuk kebiasaan cucunya bersekolah, aktivitas keluarga, dan interaksi masyarakat di lingkungan tempat tinggal.
Menurut Suprawoto, perbedaan kebiasaan antar masyarakat merupakan hal wajar. Namun, pengalaman di negara lain semestinya tidak berhenti pada rasa kagum. Ada nilai positif bisa dipelajari dan diterapkan sesuai kondisi masyarakat Indonesia.
“Desa mawa cara, negara mawa tata,” demikian pepatah Jawa menggambarkan setiap daerah dan negara memiliki adat, kebiasaan, serta aturan tersendiri.
Salah satu perbedaan terlihat dari cara masyarakat Belanda membangun keluarga dan merayakan pernikahan.
Menurut pengamatan Suprawoto, resepsi pernikahan di Belanda cenderung berlangsung sederhana. Undangan biasanya terbatas pada keluarga dan teman dekat, sekitar 25–50 orang. Perayaan dapat berlangsung di kantor pemerintahan kota, gereja, restoran, atau tempat bersejarah.
Bahkan, sebagian pasangan memilih tidak menggelar resepsi dan mengalokasikan anggaran untuk berbulan madu.
Tradisi pemberian hadiah juga menarik perhatian. Sebagian pasangan menyampaikan daftar kebutuhan rumah tangga, seperti penanak nasi, jam dinding, atau perlengkapan lainnya, bagi tamu hendak memberikan hadiah.
Keterusterangan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan sebagian masyarakat Belanda. Namun, perbedaan budaya ini juga sempat membuat menantu dan besan Suprawoto kebingungan ketika mendengar tradisi resepsi pernikahan di Indonesia dengan jumlah undangan jauh lebih banyak.
Setelah memperoleh penjelasan mengenai kebiasaan resepsi di Indonesia, mereka mulai memahami perbedaan tersebut.
Pengalaman menarik lainnya terlihat dari pendidikan anak usia dini di Belanda.
Suprawoto mengamati cucunya bersekolah di Basisschool, sekolah dasar Belanda, dengan kegiatan pembelajaran pada kelompok awal banyak melibatkan permainan edukatif.
Sekolah itu berjarak sekitar 700 meter dari rumah. Anak-anak tidak diwajibkan memakai seragam, tetapi tetap dibiasakan berpakaian rapi dan mengikuti aturan sekolah.
Jadwal belajar berlangsung pukul 08.30 hingga 15.00, dengan istirahat makan siang pukul 12.00–13.00. Anak-anak bisa pulang untuk makan siang atau membawa bekal dari rumah.
Kedisiplinan juga diterapkan dalam proses pengantaran dan penjemputan. Orang tua diharapkan datang tepat waktu, sedangkan guru memastikan anak pulang bersama penjemputnya.
Bagi Suprawoto, suasana sekolah menjadi hal penting. Anak-anak terlihat ceria mengikuti kegiatan belajar, sementara permainan edukatif menjadi bagian dari proses pengenalan pengetahuan sejak dini.
Ada ungkapan Belanda, “Je bent niet van suiker,” atau “Kamu bukan terbuat dari gula.” Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa hujan dan cuaca kurang bersahabat bukan alasan untuk mudah menyerah.
Dalam pola pengasuhan keluarga Belanda, Suprawoto juga menyoroti prinsip 3R: Rust (istirahat), Reinheid (kebersihan), dan Regelmaat (keteraturan).
Ketiga prinsip tersebut tercermin dalam rutinitas anak di rumah, mulai dari jadwal tidur, kebiasaan menjaga kebersihan, hingga keteraturan aktivitas sehari-hari.
Anak-anak dibiasakan merapikan perlengkapan setelah bermain. Mereka juga belajar memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti plastik, sampah organik, dan kertas.
Kebiasaan tersebut tidak hanya diterapkan di rumah, tetapi juga di sekolah dan lingkungan sekitar. Suprawoto melihat kanal di belakang rumah anaknya terawat, sementara rumput di tanggul rutin dipangkas oleh petugas pemerintah kota.
Ia menilai kebersihan lingkungan bukan sekadar urusan petugas, melainkan hasil pembiasaan dan kepedulian masyarakat.
Dalam kehidupan rumah tangga, pembagian pekerjaan juga dilakukan bersama. Pekerjaan rumah tidak sepenuhnya dibebankan kepada istri, tetapi menjadi tanggung jawab anggota keluarga sesuai kesempatan dan kebutuhan.
Budaya membaca menjadi pengalaman lain menarik perhatian Suprawoto.
Ia mengantar cucunya mengembalikan buku ke Perpustakaan Gemeente Lansingerland, Provinsi Zuid-Holland, pada Senin (19/10/2026) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Saat itu, perpustakaan ramai dikunjungi anak-anak bersama orang tua, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia. Sebagian pengunjung membaca buku sambil menikmati kopi dan makanan ringan di kafe.
Perpustakaan tersebut menyediakan layanan peminjaman dan pengembalian buku secara mandiri menggunakan komputer serta pemindai kode batang.
Bagi Suprawoto, perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat meminjam buku. Fasilitas itu juga berfungsi sebagai ruang publik untuk belajar, membaca, dan berinteraksi bagi berbagai kelompok usia.
Kebiasaan membaca pun ditanamkan sejak anak masih kecil. Orang tua membacakan cerita bergambar sebelum tidur, sedangkan buku sesuai usia bisa diperoleh melalui pembelian atau peminjaman di perpustakaan.
Budaya bersepeda di Belanda juga memberikan kesan tersendiri bagi Suprawoto, seorang penggemar sepeda.
Anak-anak diantar ke sekolah menggunakan sepeda, termasuk sepeda keluarga dengan ruang penumpang di bagian depan. Cucu Suprawoto sendiri menggunakan sepeda tanpa pedal karena masih kecil.
Ketika berada di Belanda, ia kerap mengantar atau menjemput cucunya sambil mengikuti dari belakang.
Menurut pengamatannya, fasilitas jalan di Belanda memberikan ruang bagi pejalan kaki, pesepeda, dan kendaraan bermotor. Pengguna jalan dituntut menaati aturan serta menghormati keselamatan satu sama lain.
Sepeda juga digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat, tanpa memandang usia maupun status sosial. Sementara itu, transportasi umum menjadi bagian penting mobilitas warga, didukung fasilitas parkir sepeda dalam jumlah besar di sekitar stasiun.
Bagi Suprawoto, kebiasaan bersepeda tidak hanya berkaitan dengan pilihan kendaraan. Infrastruktur, keselamatan, dan kebiasaan masyarakat ikut membentuk budaya tersebut.
Kebiasaan keluarga Belanda menikmati teh, kopi, dan makan malam bersama turut menjadi perhatian Suprawoto.
Awalnya, ia merasa canggung saat berbincang lama bersama besan ketika minum teh pada sore hari. Namun, seiring waktu, kebiasaan tersebut justru menjadi pengalaman menyenangkan.
Makan malam bukan hanya kegiatan untuk memenuhi kebutuhan makan, melainkan kesempatan bagi seluruh anggota keluarga berbagi cerita dan membangun komunikasi.
Saat makan bersama, anggota keluarga diharapkan menghormati orang lain. Sibuk bermain telepon genggam atau meninggalkan meja tanpa alasan ketika anggota keluarga lain masih makan dapat dianggap kurang sopan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan sederhana dapat menjadi sarana pendidikan tentang etika, komunikasi, dan penghargaan terhadap sesama.
Bagi Suprawoto, perbedaan kehidupan keluarga Indonesia dan Belanda tidak perlu dipertentangkan. Setiap masyarakat memiliki latar belakang dan kebiasaan masing-masing.
Namun, ada nilai positif bisa dipelajari, mulai dari disiplin waktu, pembagian tanggung jawab keluarga, budaya membaca, kebersihan lingkungan, hingga penghormatan terhadap privasi.
Pada akhirnya, perjalanan ke negara lain bukan hanya tentang menikmati pemandangan atau mengunjungi tempat wisata. Pengalaman tersebut juga membuka kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat dan mengambil pelajaran berharga bagi kehidupan di tanah air.**
Penulis: Suprawoto
