SKI News
Hari Bumi, Pemuda Ponorogo Pasang Barikade Ban di Sungai: Stop Sampah Lewat, Bumi Biar Nggak “Nangis”

Adi Saputra, anggota KPS Pepeling Tambak Kemangi.
Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Momentum dimanfaatkan anak-anak muda di Ponorogo buat aksi nyata nggak cuma wacana.
Kelompok Peduli Sungai (KPS) Pepeling Tambak Kemangi turun langsung memasang barikade dari ban bekas di aliran sungai kawasan Tambak Kemangi, Rabu (22/4/2026).
Aksi ini digelar di Jalan Insinyur Juanda, Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo.
Dengan modal barang bekas mulai ban mobil, rantai motor, sampai botol air mineral mereka menyulapnya jadi “tameng” penahan sampah yang mengapung melintang di sungai.
Nggak sendiri, gerakan ini juga dibantu aparat kelurahan, TNI, dan Polri. Kolaborasi yang kelihatan simpel, tapi impact-nya nggak main-main.
Barikade tersebut dirancang buat nahan sampah yang terbawa arus. Setelah numpuk di satu titik, sampah bakal ditarik dan dikumpulkan biar nggak nyebar ke mana-mana terutama ke area persawahan yang selama ini sering jadi “korban kiriman”.
Adi Saputra, anggota KPS Pepeling Tambak Kemangi, bilang aksi ini lahir dari keresahan warga, khususnya petani.
“Tujuannya jelas, biar sampah nggak melebar ke mana-mana. Soalnya sudah sampai ke sawah dan itu dikeluhkan petani,” ujarnya.
Menariknya, bahan yang dipakai bukan barang baru. Justru dari limbah yang mereka kumpulkan sendiri sebagai pemulung.
Dari sampah, balik lagi buat nyelamatin lingkungan ironi yang sekaligus jadi tamparan.
Selain menjaga kebersihan sungai dan ekosistemnya, aliran ini juga vital buat mengairi puluhan hektare sawah di Kelurahan Tonatan dan Bangunsari. Jadi kalau sungai kotor, dampaknya langsung ke pangan.
Lurah Tonatan, Agoes Sudibyo, menyatakan dukungan penuh atas gerakan ini.
“Ini langkah positif dan sejalan dengan program pemerintah. Harapannya sampah bisa terfilter dan sungai tetap bersih,” katanya.
Aksi ini mungkin terlihat kecil. Tapi di tengah kebiasaan buang sampah sembarangan yang masih jadi “penyakit lama”, langkah seperti ini justru terasa lebih tegas daripada sekadar imbauan.
Pesannya jelas: kalau bukan sekarang yang peduli, mau nunggu bumi benar-benar “protes.”.
Jurnalis: Tim Redaksi.
