SKI News
14 Desa dan 30 Rumah di Magetan Diterjang Banjir Luapan, Drainase Disorot Keras

Dua petugas BPBD berjibaku membendung luapan air dari selokan yang meluap deras di Kelurahan Tawang Anom, Magetan, di tengah hujan masih mengguyur. Upaya ini dilakukan untuk menahan debit air agar tidak semakin menggenangi permukiman warga.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Hujan deras mengguyur Magetan, Jumat (20/3/2026), tak hanya membawa air, tapi juga membuka borok lama: buruknya pengelolaan drainase.
Sebanyak 14 desa/kelurahan terdampak banjir luapan yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.
Sedikitnya 30 rumah warga terendam. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Namun, kerugian material dan terganggunya aktivitas warga menjadi catatan serius.
Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi berlangsung sejak pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.
Air meluap di sejumlah titik vital, mulai dari pusat kota hingga jalur penghubung antarwilayah.
Lokasi terdampak meliputi Jalan Diponegoro (Kelurahan Selosari), Jalan Mayjen Sungkono dan Mayjen Sukowati (Kelurahan Sukowinangun), hingga wilayah Sukomoro dan Barat seperti Desa Tamanan, Kedungguwo, dan Blaran. Jalur utama Magetan-Maospati pun sempat terganggu akibat genangan.
Kepala BPBD Magetan, Eka Radityo, menegaskan bahwa banjir ini bukan semata akibat faktor alam.
Berdasarkan laporan Pusdalops-PB, penyumbatan saluran irigasi oleh sampah menjadi pemicu utama.
“Air tidak mengalir sebagaimana mestinya karena saluran tersumbat. Ini memperparah luapan,” tegasnya.
Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Damkar, PMI, hingga relawan langsung bergerak cepat.
Penanganan difokuskan pada pembukaan saluran irigasi tersumbat.
Hasilnya, dalam hitungan jam debit air berangsur surut dan kondisi kembali terkendali sekitar pukul 21.00 WIB.
Meski banjir telah surut, persoalan mendasar belum selesai.
Drainase buruk dan rendahnya kesadaran masyarakat soal sampah kembali menjadi sorotan tajam.
BPBD Magetan mengingatkan, kebiasaan membuang sampah ke saluran air adalah ancaman nyata yang bisa memicu bencana berulang.
“Ini bom waktu. Kalau tidak berubah, kejadian serupa akan terus terulang,” lanjut Eka.
Pemerintah daerah pun tak tinggal diam. Bupati dan Wakil Bupati Magetan turun langsung ke lapangan meninjau lokasi pascabanjir.
Mereka memastikan penanganan lanjutan segera dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Peristiwa ini menjadi alarm keras: bencana bukan hanya soal cuaca ekstrem, tetapi juga soal kelalaian kolektif.
Jika drainase dibiarkan dan sampah terus jadi budaya, maka banjir hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali datang
