Warga Ponorogo Hijrah Ke Malang Akibat Doktrin Kiamat, Polisi Terus Lakukan Pemantauan

Suarakumandang.com,BERITA PONOROGO. Paska kabar 52 warga Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, kabupaten Ponorogo, Jawa Timur hijrah ke sebuah pondok pesantren yang ada di desa Sukosari, Kecamatan Kasembon,  Kabupaten Malang, Jawa Timur, akibat adanya doktrin hingga menjual seluruh aset, polisi terus melakukan pemantuan. Bupati Ponorogo langsung menurukan tim untuk memberikan pemahaman kepada jamaah yang belum sempat berangkat ke Malang.

Setelah viral kabar 52 warga desa setempat hijrah ke Malang, Jawa Timur polisi langsung mengadakan pemantuan dilokasi. Bahkan petugas kepolisian Polres Ponorogo dan Polsek Badegan pagi mendatangi rumah sekaligus padepokan jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash – Sholihiyah yang ada dirumah milik Katimun (46) warga setempat.

AKP Suwoyo Kapolsek Badegan mengatakan pihaknya tetap melakukan penjagaan dan kewaspadaan  agar masyarakat tetap tenang dan tentram.“Tujuan kita kan membuat pengayoman dan perlindungan kepada warga masyarakat. Kita cuman waspada terhadap perkembangan barangkali ada sesuatu yang mencurigakan kita akan siap untuk bertindak,”ujar Suwoyo.

“Selain memeriksa dan padepokan petugas juga melakukan pengecekaan sejumlah rumah warga yang sudah ada ditinggal maupun dijual oleh seluruh penghuni rumah ke pondok pesantren di Malang,”paparnya.

Meski sempat menjadi viral namun pihak Polisi memastikan tidak ada gejolak di masyarakat di desa Watubonang. Hanya saja sejak ditinggal ke Malang Jawa Timur rumah yang biasanya ramai dengan jamaah  Horiqoh Akmaliyah Ash – Sholihiyah kini sepi dan nyaris tidak ada satupun warga yang datang.

Pihak desa membenarkan jika kabar 52 warga desa Watubonang sejak dua bulan terakhir hijrah ke sebuah pondok pesantren di Malang.  Namun kepergian mereka bukan karena isu kiamat, melainkan untuk menimba ilmu Agama.  hanya saja  kepergian 52 warga ini tidak sepengetahuan warga maupun pihak desa.

“Sebelum hijrah ke Malang nggak ada tanda-tanda yang aneh istilahnya apalagi sama lingkungan ya rukun saja. Sebenarnya dalam hati saya bertanya kenapa banyak warga yang ikut ke Malang,”kata Sogi Kamituwo Desa setempat.

Sementara Bupati Ponorogo mengaku saat ini sudah membentuk tim kecil untuk melakukan pencegahan agar jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash – Sholihiyah yang ada di Ponorogo mengurungkan niat untuk berangkat ke Malang.

“Pagi ini akan ada tim yang dipimpin kepala Bakesbang, dimana didalamnya nanti ada para ulama kyai dari MUI juga Camat, Ndan Ramil, Kapolsek, TNI dan tokoh tokoh setempat untuk mengumpulkan tokoh tokohnya pemuka pemuka dan warga masyarakat yang terindikasi menjadi jamaahnya pak Katimun untuk diberikan pemahaman,”terang  Ipong Muchlissoni Bupati Ponorogo kepada wartawan.

Dijelaskan pula, pihak pemerintah kabupaten Ponorogo akan memberikan pengertian agar tadinya mereka berniat untuk menyusul 52 temannya ini diurungkan niatnya dan selanjutnya dia tidak jadi mengikuti atau menjual harta benda dan sebagainya.

Sebelumnya telah diberitakan  52 warga desa Watubonang jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash – Sholihiyah dalam dua bulan terakhir hijrah ke sebuah pondok pesantren di Malang karena adanya isu akan ada kiamat. Bahkan mereka rela menjual seluruh aset berupa rumah dan tanah dengan harga murah, yakni antara 10 hingga 30 juta rupiah. Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.