Connect with us

SKI News

Sosialisasi Pemberitaan Media Yang Ramah Anak, Ketua PWI Jatim Ingatkan Media

Published

on

Ainur Rohim Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dalam sambutannya diacara pelantikan pengurus PWI yang digelar disurya Graha Kabupaten Magetan, Jumat,(12/07/2019) lalu.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Dewan Pers memulai program sosialisasi pemberitaan media yang ramah anak, di mana salah satu materinya menekankan agar identitas anak sebagai pelaku dan korban kejahatan  yang menjadi objek pemberitaan harus dirahasiakan. ”Saat ini dewan pers sedang gentol-gentolnya mensosialisasikan terkait pemberitaan media yang ramah anak kepada seluruh  stakeholder di tahun 2019,”ujar Ainur Rohim Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dalam sambutannya diacara pelantikan pengurus PWI yang digelar disurya Graha Kabupaten Magetan, Jumat,(12/07/2019) lalu.

“Sekitar 10 hari yang lalu saat ada kegiatan dewan pers di Surabaya  yang dihadiri Ketua Dewan Pers Profesor Muhammad Nuh Tentang Sosialisasi pedoman Pemberitaan Ramah Anak salah satu poin penting  dalam pedoman pemberitan ramah anak adalah  artibut andministrasi anak tidak bisa disebutkan secara terbuka didalam pemberitaan,”kata Ainur.

Lanjut Ainur, maksud dari artibut andministrasi  adalah nama anak adalah nama orang tuanya, nama kakak atau adik, saudara maupun tetangga bahkan alamat. “Kalaupun alamat itu cukup nama Kecamatan. Kalau mencantum nama  Desa/Kelurahan, RT, RW, Nomer rumah, Jalan,  itu tidak boleh ,”tegas Ainur .

Ada filofisi prinsip yang perlu diperhatikan oleh teman-teman media, fase perkembangan orang itu tidak bisa dibalik atau tidak bisa kembali. “Ketika seorang anak tersebut mempunyai jejak digital  artibut andministrasi  tidak baik sejak adanya berita yang tidak baik itu bisa mempengaruhi psikologi anak tersebut, sebab jejak digitalnya bisa ditelusuri,”jelasnya.

Masih kata Ainur, ketika anak tersebut  sudah dewasa atau sudah menjadi orang tua jejak digitalnya tidak akan hilang. ”Itu yang membedakan perkembangan atau perubahan pertumbuhan pada anak dengan barang-barang berupa matrial,”terangnya.

“Kita ambil contoh matrial, ketika es crim dimasukan dalam frezer es akan menjadi padat dan jika ingin dicairkan cukup dibawah ketempat yang panas, tapi jika ingin dipadatkan kembali bisa dimasukan kedalam  ke frezer. Tapi kalau anak tidak mungkin, ketika sudah dewasa tidak mungkin akan dikembalikan ke fase anak, dan itu tidak akan terjadi,”papar Ainur dalam sambutanya.

Lebih lanjut, makanya pemberitaan tentang anak itu sekarang menjadi konsen yang luar biasa dari dewan pers dan dari kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, karena jejak digital itu luar biasa dampaknya.

“Teman-teman sekalian, kami yang ada di profesi wartawan maupun teman-teman PWI di Magetan saya ingatkan betul, untuk membaca pedoman berita ramah anak. Selain itu anda juga membaca regulasi yang lain misalnya kode etik jurnalistik, Undang-Undang nomor 40 tahun 1999, undang-undang penyiaran, maupun undang-undang cyber,”kata Ainur lagi.

Sementara  sosialisasi Pemberitaan Media Yang Ramah Anak diharapkan media dapat memberi perhatian lebih kepada anak demi mewujudkan generasi Indonesia yang lebih baik. ”Jika berita yang disajikan baik, maka generasi -generasi Indonesia akan tumbuh baik pula,”pungkasnya.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.