Connect with us

SKI News

Soroti Anggaran MBG, Kanang PDI Perjuangan Minta Evaluasi: Dari Rp 15 Ribu ke Anak Kok Tinggal Rp 7–8 Ribu

Published

on

Anggota DPRD RI Fraksi PDI Perjuangan Budi Sulistyono atau akrab disapa Kanang..Foto: suarakumandang.com

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi bahan sorotan.

Anggaran digadang-gadang besar ternyata memunculkan tanda tanya di lapangan: dari hitungan Rp 15 ribu per anak, nilai makanan diterima disebut hanya berkisar Rp 7 ribu hingga Rp 8 ribu.

Sorotan ini disampaikan politisi senior PDI Perjuangan sekaligus anggota DPR RI, Budi Sulistyono atau akrab disapa Kanang.

Pernyataan itu ia sampaikan usai menghadiri acara buka bersama di Wisma DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Kanang, DPR RI pada prinsipnya tidak pernah menolak program pemberian makanan bergizi bagi masyarakat, terutama untuk anak-anak.

Namun jika pelaksanaannya di lapangan tidak memberikan manfaat maksimal atau bahkan melenceng dari tujuan, maka evaluasi menjadi langkah wajib dilakukan.

“Pada prinsipnya kita tidak pernah melarang pemberian makan bergizi kepada masyarakat. Tapi kalau pelaksanaannya tidak membawa manfaat dan tidak tepat sasaran, tentu harus kita evaluasi,” ujar Kanang kepada jurnalis suarakumandang.com

Ia menjelaskan, DPR terus melakukan pengawasan dan evaluasi melalui koordinasi dengan komisi-komisi terkait agar program tersebut berjalan sesuai tujuan awal.

Yang menjadi perhatian utama, lanjut Kanang, adalah struktur anggaran dalam program MBG.

Dalam perhitungan awal, alokasi untuk setiap anak disebut mencapai sekitar Rp 15.000.

Namun realitas di lapangan memunculkan pertanyaan baru. Nilai makanan diterima anak-anak disebut hanya sekitar Rp 7.000 hingga Rp 8.000.

Selisih angka ini memantik pertanyaan publik: ke mana sisa anggaran tersebut mengalir.

Program MBG sendiri disebut memiliki total anggaran mencapai sekitar Rp 325 triliun.

Jika benar-benar sampai kepada anak-anak hanya sekitar Rp 170 triliun, maka transparansi pengelolaan anggaran menjadi hal tidak bisa ditawar.

“Jangan sampai negara sudah menganggarkan dari pajak rakyat, tapi sampai di lapangan tidak sesuai dengan harapan,” tegas Kanang.

Ia berharap evaluasi menyeluruh dapat dilakukan agar tata kelola program lebih transparan dan tepat sasaran.

Dengan begitu, tujuan utama meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia benar-benar terasa manfaatnya.

Di tengah besarnya anggaran negara, pesan dari parlemen cukup jelas program boleh jumbo, tapi manfaatnya harus benar-benar hadir di piring anak-anak.

Jurnalis: Cahyo Nugroho.