Connect with us

SKI News

Sapu, Pel, dan Kesadaran Diri: Banteng Magetan Mulai Berpolitik dari Membersihkan Rumah Sendiri

Published

on

Bukan sibuk membersihkan citra, kader PDI Perjuangan Magetan memilih membersihkan kantor DPC. Sapu dan pel lebih jujur daripada janji politik.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Di tengah hiruk-pikuk politik kerap sibuk berbicara namun miskin kerja nyata, kader PDI Perjuangan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, justru memilih memulai dari hal paling mendasar: membersihkan rumah sendiri.

Minggu (28/12/2025), Kantor Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Magetan bukan berubah menjadi ruang rapat penuh retorika, melainkan arena gotong royong. Jauh dari mikrofon dan spanduk, terdengar justru gesekan sapu, pel, dan langkah kaki kader sibuk bekerja.

Sekitar 50 kader PDI Perjuangan Magetan dari berbagai lapisan mulai Satgas Cakra Buana, badan dan sayap partai, pengurus PAC, hingga ranting dan anak ranting turun tangan sejak pagi.

Tidak ada kursi empuk, tidak ada sekat jabatan. Semua menyatu dalam kerja nyata, membiarkan keringat berbicara jauh lebih lantang daripada pidato politik.

Pemandangan tersebut terasa kontras dengan realitas politik sering kali lebih rajin membersihkan citra ketimbang lingkungan kerja.

Di kantor DPC Banteng Magetan, halaman, ruang kerja, hingga sudut-sudut kerap luput dari perhatian ikut dibereskan. Sunyi dari slogan, ramai oleh kerja nyata.

Ketua DPC PDI Perjuangan Magetan, Diana Sasa, menegaskan bahwa kegiatan resik-resik kantor ini bukan agenda seremonial, apalagi rutinitas penggugur kewajiban.

“Kantor DPC ini rumah bersama. Kalau mau bicara pengabdian pada rakyat, pertama harus dibenahi adalah rumah dan diri kita sendiri,” tegasnya, menyentil budaya politik yang gemar menuntut namun enggan berbenah.

Foto bareng setelah kerja, bukan sebelum janji. Kader PDI Perjuangan Magetan menutup gotong royong dengan senyum di depan Kantor DPC.

Menurut Diana, disiplin dan tanggung jawab tidak lahir dari baliho atau konferensi pers, melainkan dari kebiasaan kecil dilakukan bersama.

Keterlibatan seluruh struktur partai menjadi bukti bahwa soliditas tidak dibangun lewat wacana, melainkan lewat kerja yang benar-benar dirasakan.

“Banteng Magetan tidak banyak bicara. Kalau bisa dikerjakan hari ini, ya dikerjakan. Gotong royong ini karakter, bukan pencitraan,” tandasnya.

Kegiatan kerja bakti ini juga dimaknai sebagai bagian dari konsolidasi internal pasca Konferensi Cabang, sekaligus penegasan bahwa kantor DPC akan difungsikan secara serius sebagai pusat gerakan mulai dari pendidikan politik hingga pelayanan masyarakat bukan sekadar bangunan ramai saat musim pemilu.

Di tengah panggung politik kerap dipenuhi janji bersih dan slogan perubahan, kerja bakti ini menjadi sindiran diam bagi mereka gemar mengoreksi orang lain namun abai merapikan barisannya sendiri.

Sebab, rakyat tak membutuhkan politisi pandai beretorika tentang gotong royong, tetapi enggan memegang sapu di rumahnya sendiri.

Resik-resik Kantor DPC ini menjadi simbol bahwa Banteng Magetan memilih jalan kerja nyata: turun tangan langsung, berani introspeksi, dan memulai perubahan dari membersihkan diri sendiri sebelum berbicara soal membersihkan negeri.

Jurnalis: Tim Redaksi.

,