Connect with us

SKI News

Salah Isi Form Pendataan, SPPG Pupus Ikut Tersuspend Meski IPAL Sudah Baik dan Berfungsi Normal

Published

on

Kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) SPPG Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, yang diklaim berfungsi dengan baik dan memenuhi standar pengelolaan limbah. Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, IPAL tersebut tetap beroperasi normal meski SPPG Pupus sempat masuk dalam daftar suspend yang diduga dipicu kesalahan administrasi saat pengisian formulir pendataan

Bukan karena limbah bermasalah, dapur MBG di Pupus Disuspen karena ketidak telitian Kepala Dapur. Sekolah dan wali murid kini menanti layanan kembali berjalan.

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Di saat 11 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Magetan mendapat sanksi suspend, muncul satu kasus yang cukup bikin geleng-geleng kepala.

SPPG Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, disebut ikut tersuspend bukan karena Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bermasalah, melainkan diduga akibat salah mengisi formulir pendataan.

Data dihimpun menyebutkan, formulir yang diedarkan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 6 Mei 2026 sebenarnya diperuntukkan bagi dapur yang belum memiliki IPAL atau memiliki IPAL yang bermasalah.

Namun, formulir tersebut justru ikut diisi oleh pihak SPPG Pupus yang kondisi IPAL-nya diklaim sudah tersedia, layak, dan berfungsi normal.

Akibat pengisian tersebut, data yang masuk terbaca sebagai laporan adanya persoalan pada sistem pengolahan limbah.

Dampaknya cukup serius. SPPG Pupus akhirnya masuk dalam daftar dapur yang terkena suspend sementara.

“Di lapangan, kondisi IPAL justru berfungsi normal dan layak digunakan. Secara fisik maupun operasional tidak ditemukan persoalan ,” ungkap salah satu sumber yang mengetahui proses tersebut.

Menurut sumber itu, persoalan yang terjadi lebih mengarah pada miskomunikasi administrasi daripada persoalan teknis di lapangan.

Kepala SPPG Pupus Lembeyan, Nurul Fadilah, juga mengakui bahwa persoalan tersebut berawal dari kesalahan pengisian formulir olehnya.

Pihaknya kini telah menempuh seluruh langkah administrasi yang diperlukan untuk proses klarifikasi.

“Kami sudah menindaklanjuti persoalan ini. Semua proses administrasi sudah diurus, termasuk pelaporan dan penyusunan surat-surat yang diperlukan. Saat ini kami tinggal menunggu surat tindak lanjut atau keputusan berikutnya. Pada prinsipnya, seluruh prosedur yang diperlukan sudah kami tempuh dan sekarang tinggal menunggu hasilnya. Kami mewakili dapur pupus lembeyan menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini” ujar Nurul.

Jika hasil verifikasi nantinya membuktikan bahwa IPAL di SPPG Pupus memang memenuhi standar dan berfungsi sebagaimana mestinya, maka keputusan suspend berpotensi ditinjau kembali.

Sementara itu, dampak penghentian sementara layanan MBG mulai dirasakan oleh sekolah dan para wali murid penerima manfaat.

Heri Eka Reptina Sari, Person in Charge (PIC) sekaligus Pengelola MBG di SD Negeri Pupus 3, mengatakan seluruh keluarga besar PAUD, TK, dan SD Negeri Pupus 3 berharap SPPG segera kembali beroperasi.

Menurutnya, selama program Makan Bergizi Gratis berjalan, manfaatnya sangat dirasakan oleh siswa maupun orang tua.

“Menu yang disajikan benar-benar ditangani dengan baik, rasanya enak dan home made. Wali murid sangat terbantu karena setiap pagi tidak lagi bingung menyiapkan bekal anak-anak,” kata Heri.

Ia menjelaskan, pihak sekolah selama ini menjalin sinergi yang baik dengan SPPG untuk memastikan kualitas makanan yang diterima siswa tetap terjaga.

Tak hanya itu, menu yang variatif juga membuat anak-anak semakin antusias mengikuti program MBG.

“Anak-anak semangat karena menunya bervariasi. Pegawai dapur juga ramah dan komunikasi dengan sekolah berjalan baik,” tambahnya.

Kini, sekolah dan para wali murid hanya bisa menunggu hasil klarifikasi yang sedang berproses.

Mereka berharap persoalan administrasi tersebut segera menemukan titik terang sehingga layanan MBG dapat kembali hadir di meja makan para siswa.

Kasus SPPG Pupus sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam program sebesar MBG, ketelitian administrasi tak kalah penting dibanding kesiapan teknis di lapangan.

Sebab, satu formulir yang salah dipahami bisa berujung pada terhentinya layanan yang setiap hari dinantikan ratusan anak sekolah.

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *