SKI News
Puluhan Saluran Di Magetan Direhab, Embung Digelontor Miliaran: Petani Ingatkan Jangan Hanya Bangun Lalu Ditinggal

Proses pembangunan embung di Desa Sidoyawah, Kecamatan Panekan, terus berjalan. Sejumlah truk tampak mengantre mengangkut material tanah untuk pembentukan badan embung
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Sepanjang tahun 2025, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magetan, Jawa Timur terus menggeber pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur sumber daya air.
Anggaran miliaran rupiah digelontorkan untuk memperkuat saluran irigasi hingga membangun embung baru, dengan klaim demi menjaga pasokan air pertanian.
Sub koordinator Sarana Prasarana Bidang Sumber Daya Air DPUPR Magetan, Ulit Nuah Ahmad, menyampaikan bahwa pada tahun ini pihaknya merehabilitasi sekitar 30 pekerjaan saluran dengan total anggaran mencapai Rp 6 miliar.
Rehabilitasi tersebut menyasar bangunan yang rusak dan telah termakan usia agar kembali berfungsi optimal.
“Sebagian besar kondisinya memang sudah tua, sehingga perlu diperkuat, bukan sekadar perbaikan ringan,” ujar Ulit.
Selain saluran, DPUPR Magetan juga melaksanakan pembangunan tiga embung baru serta rehabilitasi satu embung dengan anggaran sekitar Rp 1 miliar.
Tak berhenti di situ, dua embung lainnya turut direhab dengan anggaran masing-masing Rp130 juta.
Pembangunan embung baru ini ditujukan untuk menambah tampungan air, khususnya di wilayah membutuhkan suplai tambahan untuk area persawahan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di Sidowayah, Kecamatan Kawedanan, yang juga difungsikan sebagai aset daerah sekaligus penambah suplisi air untuk Bendung Bringin guna mendukung irigasi pertanian.
Namun di lapangan, petani dan warga memberi catatan penting. Mereka mengapresiasi pembangunan, tetapi berharap manfaatnya benar-benar dirasakan, bukan sekadar deretan proyek tahunan.
“Kalau embung dan saluran ini benar-benar berfungsi, jelas sangat membantu. Tapi jangan hanya dibangun lalu ditinggal. Perawatan itu yang sering terlewat,” ujar Sutrisno, petani asal Kecamatan Kawedanan.
Hal senada disampaikan Paijan, petani padi di wilayah Sidowayah. Menurutnya, air merupakan urat nadi pertanian yang tak bisa ditawar.
“Air itu urat nadi sawah. Kalau alirannya lancar, hasil panen ikut terjaga. Kami hanya ingin proyek ini benar-benar dirasakan manfaatnya, bukan sekadar papan nama,” katanya.
Warga setempat juga mengingatkan agar anggaran besar yang digelontorkan tidak berujung sia-sia.
“Pembangunan memang ada, tapi dampaknya harus jelas. Jangan sampai habis miliaran, saluran tetap mampet dan embung cepat rusak,” ujar seorang warga Sidowayah yang enggan disebutkan namanya.
Warga berharap, pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur air tersebut tidak berhenti pada seremoni dan laporan administrasi, melainkan disertai pengawasan serta perawatan berkelanjutan agar benar-benar menopang sektor pertanian Magetan.
Jurnalis:Tim Redaksi.
