Connect with us

SKI News

PJU Kalah oleh Ranting, Fauzi Klaim Koordinasi SKPD Desa, dan Warga Sudah Dilakukan

Published

on

PJU Terhalang oleh pohon dan ranting .

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN Anggaran miliaran rupiah sudah digelontorkan. Ratusan lampu penerangan jalan umum (PJU) telah berdiri di berbagai titik.

Namun di sejumlah ruas jalan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, malam tetap saja terasa milik kegelapan.

Bukan karena lampu mati. Bukan pula karena belum terpasang. Persoalannya justru terdengar sepele bahkan ironis: cahaya PJU kalah oleh ranting dan dahan pohon.

Di atas kertas, proyek berjalan. Di laporan, lampu menyala. Namun di lapangan, sorot cahaya tak sepenuhnya menyentuh aspal. Ranting-ranting pohon berdiri sebagai “penjaga malam”, mengalahkan fungsi penerangan yang dibeli dengan uang rakyat.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bagian Prasarana Dinas Perhubungan Kabupaten Magetan, Fauzi, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

“Mulai dari pemerintah desa, warga pemilik pohon, DPUPR Kabupaten, DLH, hingga Bina Marga Provinsi Jawa Timur. Koordinasi ini selalu dilakukan setiap pemasangan PJU,” ujar Fauzi, Selasa, (16/12/2025).

Namun klaim koordinasi itu berhadapan langsung dengan fakta lapangan: lampu tetap tertutup, jalan tetap remang, dan pengguna jalan tetap mempertaruhkan keselamatan.

“Kalau memang hingga sampai saat ini belum dilakukan pemangkasan ranting maupun pohon kemungkinan masih sibuk. Namun. jelas kami sudah koordinasi,” terangnya.

Dijelaskan, tahun 2025, Dinas Perhubungan Kabupaten Magetan memperoleh alokasi sekitar Rp 2,5 miliar untuk kegiatan pengadaan PJU.

“Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan 534 unit lampu LED,” katanya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 218 titik dipasang di lokasi baru yang tersebar di enam kecamatan.

Anggaran pemasangan—meliputi tiang, kabel, dan sepasang lampu—mencapai sekitar Rp 500 juta.

“Sisanya digunakan sebagai suku cadang pengganti untuk PJU yang mengalami kerusakan,” jelasnya.

Persoalannya kini bukan lagi soal jumlah lampu atau besar anggaran, melainkan soal hasil. Sebab bagi warga, PJU bukan sekadar terpenuhinya spesifikasi teknis, melainkan terang yang benar-benar hadir di jalan.

Ketika lampu bernilai miliaran rupiah masih kalah oleh ranting pohon, publik berhak bertanya: apakah koordinasi hanya berhenti di rapat, sementara gelap dibiarkan tinggal di jalan.

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *