SKI News
Pemkab Kediri Belajar Ikan Dewa di Magetan, Edukasi Warga Lokal Masih Tertinggal

Rombongan Dinas Perikanan Kabupaten Kediri meninjau kolam budidaya di Balai Benih Ikan (BBI) Disnakan Kabupaten Magetan, sebagai bagian dari kunjungan belajar pengembangan ikan dewa dan perikanan air tawar.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Dinas Perikanan Kabupaten Kediri berkunjung ke Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Kamis (8/1/2025), untuk mempelajari pengembangan ikan dewa, komoditas ikan air tawar bernilai ekonomi tinggi yang hingga kini belum dikembangkan di Kediri.
Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Kediri, Elo Etika, menegaskan kunjungan tersebut murni untuk belajar, mulai dari pembenihan hingga perawatan ikan dewa, bukan sekadar studi banding.
“Kami tertarik karena ikan dewa ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Di Kabupaten Kediri belum ada, sehingga kami datang ke sini untuk belajar langsung,” ujarnya kepada jurnalis Suarakumandang.com.
Selama ini, Kabupaten Kediri dikenal mengembangkan ikan nila, tawes, dan lele. Namun di balik slogan “Kediri Sentra Ikan”, ikan dewa belum masuk daftar pengembangan. Kunjungan ke Magetan menjadi sinyal bahwa slogan itu kini mulai dicari isinya.
Magetan pun didapuk sebagai daerah rujukan. Bambang Eko, Kepala Bidang Pengembangan Perikanan Disnakan Kabupaten Magetan, mengaku senang wilayahnya dipercaya sebagai tempat belajar antar daerah.
“Hari ini kami mendapat kepercayaan dari Dinas Perikanan Kabupaten Kediri untuk belajar bersama mengenai pengembangan ikan dewa,” katanya.
Namun, di balik status rujukan tersebut, muncul ironi di tingkat akar rumput. Mayoritas warga Magetan justru belum mengenal ikan dewa secara dekat, bahkan belum pernah membudidayakannya. Ironisnya, daerah luar Magetan lebih dulu datang belajar, sementara masyarakat lokal masih asing dengan komoditas yang disebut-sebut unggulan itu.
Fakta di lapangan menunjukkan, keberadaan ikan dewa di Magetan masih identik dengan Telaga Sarangan tidak boleh dipancing dan wajib dilepas jika terpancing. Alhasil, ikan dewa lebih sering hidup sebagai simbol konservasi dan laporan program, bukan sebagai komoditas dibudidayakan dan menyejahterakan warga.
Situasi ini menegaskan satu pekerjaan rumah besar: edukasi publik. Tanpa pelibatan dan pemahaman masyarakat, pengembangan ikan dewa berisiko berhenti di level dinas dan tamu studi.
Belajar ikan dewa ke Magetan memang menarik.
Namun pertanyaan pedasnya tetap sama:
jika warga sendiri belum paham, untuk siapa sesungguhnya ikan dewa dikembangkan.
Jurnalis: Tim redaksi.
