Magetan Akan Miliki Kawasan Industri Baru Penyamakan Kulit

Rombongan DPD APKI Magetan beraudiensi dengan Bupati Magetan di ruang kerja bupati, Rabu (10/10/2018)

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Warga Magetan, Jawa Timur khususnya bagi pengendara maupun warga sekitar desa Ringin Agung, Kecamatan Magetan, Jawa Timur sepertinya akan mendapatkan kabar baik  setelah setelah Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) DPD Magetan beraudiensi dengan Bupati Magetan, Rabu (10/10/2018).

“Dimana-mana yang namanya industry penyamak kulit itu selalu menimbulkan masalah terutama limbah dan bau tak sedap. Maka dari itu untuk menanggulangi limbah dan bau tak sedap APKI Magetan menyampaikan bahwa akan ada investor yang siap membangun kawasan baru untuk penyamakan kulit. Karena kawasan yang ada sekarang di desa Ringin Anom itu sudah tidak baik,” ujar Bupati Magetan, Suprawoto, kepada wartawan, Selasa (10/10/2018).

Selama ini, lanjutnya, investor telah merencanakan skema pembiayaan dan pembangunan untuk kawasan baru industri  penyamakan kulit. Dalam hal ini pemerintah kabupaten Magetan akan membantu sampai sejauh mana kesanggupan investor dalam mewujudkan kawasan baru itu.

“Sampai saat ini pihak investor terus mengupdate skema pembiayaan yang lebih ekonomis sehingga tidak memberatkan pelaku usaha, “kata Suprawoto lagi.

Bahakan pemerintah kabupaten Magetan akan memantau perkembangannya. Kalau memang investor tidak mampu menggarap, maka harus menyampaikan ketidakmampuannya. Investor harus jelas memberi gambaran ke pemerintah.

Menurut bupati, investor telah melakukan survey lokasi ke sejumlah wilayah di Magetan. “Ada beberapa alternative lokasi yang mereka pilih. Tapi, kemungkinannya di Mojopurno,” terang bupati.

Ketua DPD APKI Magetan, Basuki Rachmawan, berharap pemerintah kabupaten Magetan memberi dukungan penuh terhadap masa depan industri penyamakan kulit di Magetan. “Kami berharap Magetan memiliki kawasan industry penyamakan kulit baru yang proses basah sampai setengah jadi.  Yang ada sekarang, tetap difungsikan tapi untuk proses produksi pengolahan setengah jadi sampai finishing,” harapnya.

Diakui, limbah yang mengalir di sungai Gandong saat musim kemarau ini baunya meresahkan masyarakat. Pihaknya menegaskan bahwa baku mutu limbahnya sesuai dengan ketentuan pemerintah. “Yang namanya industry kulit memang menebarkan aroma bau menyengat.  Tapi aroma bau itu tidak ada dalam unsur baku mutu. Kalau soal bau, tikus mati saja menyebarkan bau busuk,” pungkasnya. Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.