Connect with us

SKI News

Ini Alasan Pedagang Pujasera Protes Tahun 2020 Pindah di Alun-Alun

Published

on

Mereka berkumpul usai jualan meminta pemerintah tahun 2020 pindah ke alun-alun Toni tengah memakai kemeja abu-abu

Suarakumandang.com,BERITA MAGETAN. Meski penerangan diarea pusat jajanan selera rakyat (Pujasera) yang berlokasi di stadion Yosonegoro sudah kembali normal namun dari sekian pedagang banyak yang mengeluhkan lokasi yang dipilih oleh pihak pemerintah Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pasalnya kebijakan pemerintah dinilai tidak memikirkan dampak dari hasil omset pedagang.

Adalah Toni (30) warga jalan Kalimatan Magetan dan sekaligus salah satu pedagang di pujasera mengeluhkan dengan kebijakan pemerintah kabupaten Magetan memindah pujasera ke stadion Yosonegoro.”Awalnya sekitar berjalan 6 hari dagangan saya laku keras, tapi setelah itu “hancur” tidak seperti dialun-alun, laku terus meskipun dipertengahan bulan puasa tak seramai awal buka,”ujar Toni yang akrab dipanggil Toni Klepon.

Sejak kali pertama berjualan di lokasi yang menjadi pilihan pemerintah kabupatan Magetan dia mengaku sudah merasakan tidak akan laris seperti dialun alun.”Ini membuat saya dan teman-teman yang ada disini “ngenes” karena banyak dagangannya tidak laku terjual,”kata Toni.

“Di kabupaten mana saja, yang namanya alun-alun merupakan pusat keramaian untuk berkumpul masyarakat dari penjuru desa. Apalagi sejak dulu pujasera sudah ada dialun-alun,”jelas Toni Klepon kepada jurnalis suara kumandang.

Dia juga mengatakan, apalagi acara pujasera tidak diadakan setiap saat atau setiap berapa bulan sekali, akan tetapi hanya satu tahun sekali. Menurutnya  akan sulit untuk memindah pelanggan yang sudah terbiasa membeli di alun-alun.

“Apalagi momen bulan puasa rata-rata pembeli tidak hanya ingin membeli makanan maupun minuman akan tetapi juga ingin menikmati jelang buka puasa disore hari di alun-alun,”terangnya.

Masih kata Toni, jauh kalau dibandingkan dengan suasana di stadion Yosonegoro.”Jika malam tiba suasana di stadion Yosonegoro sudah mulai sepi, bahkan pukul 19.00 WIB sudah tidak ada orang yang hendak main maupun berkunjung,”keluhnya.

“Kalau dialun-alun di bulan puasa meski sudah pukul 21.00 WIB tetap ada orang yang hendak bermain meski tak seramai sore hari,”akunya.

Dijelaskan pula, jualan klepon di stadion Yosonegoro hanya mampu menghabiskan 2 kg bahan baku untuk membuat klepon, kalau di alun-alun rata-rata bisa menghabiskan rata-rata 5 kg bahan baku. ”Jauh penghasilan saya turun, biasanya saya dialun-alun bisa habis 5 kg bahan baku tapi kalau disini 2 kg itupun tidak habis terjual semua,”kata Toni lagi.Sabtu,(25/05/2019).

“Kalau dihitung perhari rata-rata dialun-alun saya mampu menghasilkan uang Rp 200 ribu, kalau di sini Rp 100 ribu bolong alias nggak utuh,”kesal Toni.

Senada yang dikatakan, Waginem (50) warga Panekan juga mengeluhkan dengan kebijakan pemerintah memilihkan lokasi yang tidak memikirkan dampak dari hasil jualan pedagang di pujasera.”Selain penerangannya tidak maksimal , sepi pembeli, bahkan hasilnya jauh lebih banyak saat jualan di alun-alun Magetan. Saya mengalami penurunan omset lebih dari 50 persen,”kata Waginem.

“Apalagi dagangan yang saya jual adalah makanan jadi, resikonya kalau tidak laku terpaksa solusinya dibuang karena basi,”keluh Waginem.

Sementara itu, Toni klepon dari kawan-kawan pujasera berharap pihak pemerintah kabupaten Magetan untuk tahun depan bisa kembali berjulan di alun-alun .

Jurnalis: Cahyo Nugroho.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *