Doktrin Kiamat Sudah Dekat, 52 Warga Hijrah Ke Malang

SEPI:Rumah milik Katimun (46) warga Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur sudah 2 bulan terakhir ini sepi

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO. Diduga akibat doktrin akan terjadi kiamat di Ponorogo, Jawa Timur,  puluhan warga sebuah jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash- Sholihiyah di Ponorogo, Jawa Timur berbondong-bondong hijrah ke sebuah pondok pesantren di Malang, Jawa Timur. Bahkan dalam hijrah ini seluruh aset dan rumah dijual murah hanya untuk bekal berada di Malang, Jawa Timur.

Seperti rumah milik Katimun (46) warga Dusun Krajan, Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur rumah tokoh agama yang memiliki jamaah hingga lebih 200 orang ini kini sepi tak berpenghuni.

Saeran salah satu staf Desa Watubonang menjelaskan sejak dua bulan terakhir ini rumah tersebut mulai sepi Karena ditinggal Katimun bersama dua anaknya hijrah ke Malang. ”Sebelum ke Malang rumah ini selalu menggelar pengajian setiap hari Selasa malam dan Jumat malam dan dipimpin langsung oleh Katimun, ”kata Saeran kepada wartawan.

Menurutnya, bahkan jamaah yang datang ke rumahnya lumayan banyak dan tidak hanya warga sekitar melainkan dari berbagai daerah termasuk dari Kabupaten Wonogiri,  Jawa Tengah.

“Pergi ke Malang itu malam hari, berangkatnya sendiri-sendiri bartahap bahkan ada yang datang terus ngajak yang lain. Katanya mau ke Malang mondok dan isunya lagi mau kiamat. Dia bilang disini akan kiamat disana tidak kiamat,”kata saeran lagi.

Masih kata Saeran, yang hijrah ke Malang sedikitnya berjumlah 52 warga.”Mereka hijrah ke pondok pesantren yang ada di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. hijrahnya ke 52 warga Desa Watubonang ini disebabkan adanya doktrin isu-isu jika kiamat sudah dekat,”ucapnya.

Joko Susilo warga setempat menjelaskan kalau Katimun orangnya biasa tidak terlalu menonjol di desanya seperti tokoh-tokoh masyarakat di Desa Watubonang.”Setiap malam ada kegiatan mas, seperti sholawatan, dzikir. Saya sendiripun jarang ke sana. Warga sini yang ikut cukup lumayan banyak, rata-rata jamaah pak Katimun,”terangnya.

“Sedangkan rumah milik warga katanya sudah ada yang  dijual 3. Kalau sehari-hari orangnya biasa saja terbuka, bahkan tidak pernah ada ceramah yang neko-neko,”kata Joko Susilo warga setempat.

Sementara itu, pihak desa juga menghimbau kepada warga untuk tidak terpengaruh dengan doktrin atau isu akan adanya kiamat. Termasuk untuk tidak lagi meninggalkan rumah ataupun menjual aset hanya karena isu yang tidak jelas muaranya. Cahyo.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seo wordpress plugin by www.seowizard.org.