Connect with us

SKI feature

Jejak Terakhir di Jembatan Ngujur: Sunyi, Sungai, dan Pencarian Berujung Duka

Published

on

Petugas gabungan mengevakuasi jenazah pelajar yang ditemukan di aliran Sungai Bengawan Madiun, sekitar 450 meter dari titik awal di Jembatan Ngujur, Kecamatan Nguntoronadi, Magetan, Kamis (23/4/2026).

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pagi di Jembatan Ngujur, Desa Gorang Gareng, Kecamatan Nguntoronadi, awalnya tampak seperti hari biasa. Kendaraan melintas, warga beraktivitas. Namun di satu titik, suasana terasa berbeda.

Sebuah sepeda motor terparkir tanpa pemilik. Di dekatnya, STNK dan sepasang sandal tergeletak. Diam. Tanpa penjelasan.

Benda-benda itu kemudian menjadi awal dari sebuah cerita panjang—tentang hilangnya seorang pelajar, dan pencarian yang menguras harap.

Davin Andriano Mustaqin (18), siswa kelas XII SMK asal Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran, diketahui keluar rumah pada Selasa malam (22/4/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Seperti malam-malam biasa, tak ada firasat apa pun.

Namun hingga waktu berganti, ia tak kunjung pulang.

Kepala BPBD Kabupaten Magetan Eka Radityo mengatakan

Keesokan harinya, kabar orang hilang sampai ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan sekitar pukul 09.00 WIB.

Temuan di atas jembatan langsung mengarahkan dugaan pada satu kemungkinan: terjadi sesuatu di lokasi tersebut.

Keluarga yang datang ke lokasi memastikan, barang-barang itu milik Davin. Harapan mulai bercampur kecemasan.

Yang membuat situasi semakin sunyi adalah ketiadaan saksi. Tak seorang pun benar-benar melihat apa yang terjadi di jembatan pada malam itu.

Pukul 09.30 WIB, warga bersama perangkat desa mulai menyisir area sekitar. Langkah demi langkah menyusuri tepian, menatap aliran Sungai Bengawan Madiun yang tampak tenang di permukaan, namun menyimpan banyak kemungkinan di bawahnya.

Hasilnya masih nihil.

Tim BPBD kemudian turun tangan. Koordinasi dilakukan dengan aparat kepolisian. Pencarian mulai ditata lebih sistematis, meski semua masih berangkat dari dugaan.

Memasuki siang hingga malam, alam menghadirkan tantangan. Hujan dengan intensitas sedang membuat debit Sungai Bengawan Madiun meningkat sekitar 50 sentimeter.

Arus menjadi lebih deras, visibilitas menurun, dan area pencarian semakin luas.

Hari kedua, Kamis (23/4/2026), suasana di lokasi berubah lebih intens. Sebanyak 86 personel gabungan dikerahkan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan.

Perahu karet diturunkan ke sungai. Mesin dinyalakan, memecah kesunyian. Empat tim menyisir aliran air, sementara dua tim lainnya bergerak di daratan, menelusuri sisi barat dan timur sungai.

Di bawah jembatan, teknik manuver ombak dilakukan berulang. Air diaduk, berharap ada tanda yang muncul ke permukaan.

Penyisiran diperluas hingga lebih dari tiga kilometer dari titik awal. Waktu berjalan, namun hasil belum terlihat.

Siang hari dilakukan evaluasi. Fokus pencarian kembali dipusatkan di bawah jembatan titik yang sejak awal menjadi pusat dugaan.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 15.10 WIB, pencarian itu menemukan jawabannya.

Korban ditemukan sekitar 450 meter dari lokasi awal, dalam kondisi meninggal dunia.

Di tepi sungai, suasana mendadak hening. Tidak ada sorak, hanya kelegaan yang bercampur duka.

Proses evakuasi berlangsung cepat. Jenazah dibawa kembali ke rumah duka. Operasi SAR resmi ditutup pada pukul 16.14 WIB.

Dua hari pencarian berakhir, namun tidak semua pertanyaan ikut selesai.

Tanpa saksi mata, tanpa kepastian detik-detik kejadian, peristiwa ini masih menyisakan ruang gelap yang belum sepenuhnya terungkap.

Lebih dari sekadar kronologi, kejadian ini menjadi pengingat tentang sisi lain dari ruang-ruang yang kita anggap biasa. Jembatan yang setiap hari dilalui, sungai yang tampak tenang, bisa menyimpan risiko yang tak terlihat.

Minimnya penerangan, kurangnya pengawasan, serta aktivitas di malam hari menjadi catatan penting yang tak bisa diabaikan.

BPBD Kabupaten Magetan mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, terutama saat berada di sekitar aliran sungai.

Evaluasi terhadap titik-titik rawan juga dinilai perlu segera dilakukan oleh pihak terkait.

Kini, Jembatan Ngujur kembali dilalui seperti biasa.

Namun bagi sebagian orang, tempat itu tak lagi sama.

Di sana, pernah ada jejak terakhir yang tak sempat menjelaskan apa-apa.

Jurnalis: Tim Redaksi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *