Connect with us

SKI News

Remaja Sukorejo Serahkan 3 Kg Bahan Peledak: Niat Bikin Petasan, Endingnya Pilih Waras

Published

on

Caption berita standar Remaja di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo secara sukarela menyerahkan bahan pembuat petasan atau mercon kepada petugas Polsek Sukorejo, Selasa (10/3/2026).

Suarakumandang.com, BERITA PONOROGO . Tren bikin petasan jelang hari besar keagamaan kembali bikin geleng kepala.

Di saat sebagian remaja masih nekat main bahan peledak, seorang remaja di Kecamatan Sukorejo, Ponorogo justru memilih “rem mendadak”.

Selasa (10/03/2026), remaja berinisial MAK (16), warga Dukuh Duwet, Desa Gegeran, secara sukarela menyerahkan sekitar 3 kilogram bubuk booster kelengkeng (potasium)  rencananya akan dijadikan bahan baku petasan.

Penyerahan dilakukan di Balai Desa Gegeran setelah aparat Polsek Sukorejo mendapat laporan masyarakat terkait adanya bahan kimia berbahaya disimpan warga.

Kapolsek Sukorejo Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono bersama Unit Reskrim dan Bhabinkamtibmas langsung turun tangan. Bukan dengan gaya garang, tapi pendekatan persuasif ngobrol, edukasi, dan kasih gambaran risiko ledakan yang bisa bikin nyawa melayang dalam hitungan detik.

Hasilnya,  MAK akhirnya memilih jalan lebih masuk akal: menyerahkan bahan tersebut secara sukarela.

Kapolsek Sukorejo, Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono, mengapresiasi langkah remaja tersebut beserta keluarganya.

“Setelah kami beri penjelasan tentang risiko fatal dari ledakan petasan, bersangkutan merasa takut dan akhirnya memilih menyerahkan bahan tersebut secara sukarela,” ujar Cahyo.

Kalau dipikir-pikir, keputusan itu memang paling logis. Bayangkan saja, dari sekadar ingin bikin petasan buat seru-seruan, risikonya bisa berubah jadi berita duka, rumah rusak, atau bahkan korban jiwa.

Dari hasil penelusuran, bahan tersebut dibeli MAK secara daring seharga sekitar Rp300 ribu.

Rencananya akan dicampur dengan belerang dan aluminium untuk diracik menjadi petasan berdaya ledak tinggi.

Untungnya, sebelum eksperimen berbahaya itu benar-benar terjadi, kesadaran datang lebih dulu.

Penyerahan barang bukti disaksikan langsung oleh Kepala Desa Gegeran, perangkat desa, serta pihak keluarga. Polisi pun memilih langkah pembinaan, mengingat pelaku masih di bawah umur.

Kapolsek menegaskan, pihaknya terus menggencarkan patroli dan sosialisasi agar tradisi petasan dan balon udara liar tidak lagi memakan korban.

“Jangan sampai kesenangan sesaat berubah jadi penyesalan seumur hidup. Bermain bahan peledak itu bukan keren, tapi justru membahayakan,” tegasnya.

Fenomena petasan rakitan memang masih sering muncul tiap menjelang hari besar.

Sayangnya, sebagian orang masih menganggapnya hiburan, padahal faktanya lebih sering berakhir dengan luka bakar, ledakan, hingga korban jiwa.

Jadi kalau mau seru-seruan, pilih cara yang aman.

Karena jujur saja, petasan rakitan itu bukan tradisi lebih mirip undangan masalah.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *