Connect with us

SKI News

Sekretaris PGRI Magetan: Sekolah Favorit Bukan Penentu Masa Depan Anak

Published

on

Sekretaris PGRI kabupaten Magetan Joko Purnama

Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN Fenomena orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anak ke sekolah favorit mendapat perhatian dari Sekretaris Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Magetan, Joko Purnama.

Ia menegaskan, keberhasilan seorang anak tidak ditentukan oleh status sekolah, melainkan karakter, kemauan belajar, serta kesungguhan dalam mengembangkan potensi diri.

Menurut Joko, masyarakat perlu mengubah cara pandang bahwa sekolah favorit bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Sebab, saat ini seluruh sekolah telah memiliki program unggulan masing-masing, baik di bidang akademik maupun non akademik, didukung tenaga pendidik yang kompeten.

“Pada prinsipnya semua sekolah itu sama. Masing-masing memiliki keunggulan, baik akademik maupun non akademik. Saya yakin semua sekolah di Magetan itu baik,” ujarnya.

Ia menilai istilah sekolah favorit lebih banyak terbentuk karena branding atau persepsi masyarakat.

Padahal, hasil akhir pendidikan tetap bergantung pada kemampuan dan karakter peserta didik.

“Sekolah favorit itu hanya sebuah branding. Hasil akhirnya tetap bergantung pada siswanya sendiri. Kalau anak tidak memiliki kemampuan dan karakter yang kuat untuk belajar, sekolah favorit pun bukan jaminan akan berhasil,” tegasnya.

Joko mengimbau para orang tua agar tidak memaksakan kehendak demi mengejar label sekolah favorit.

Sebaliknya, orang tua diharapkan mendampingi anak memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan, minat, dan bakatnya agar proses belajar dapat berlangsung lebih optimal.

Menurutnya, sudah banyak lulusan SMA maupun SMK yang bukan berasal dari sekolah favorit, tetapi mampu meraih kesuksesan di berbagai bidang.

Mulai menjadi pelaku usaha, profesional, aparatur sipil negara, hingga berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.

“Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh label sekolahnya, melainkan oleh karakter, kemauan belajar, kerja keras, serta kemampuan mengembangkan potensi yang dimiliki. Sekolah hanyalah wadah, sedangkan hasil akhirnya sangat bergantung pada usaha dan komitmen masing-masing siswa,” jelasnya.

Joko berharap masyarakat tidak lagi memandang kualitas pendidikan hanya dari nama besar sebuah sekolah. Menurutnya, keberhasilan anak merupakan hasil kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan kemauan siswa dalam memanfaatkan setiap kesempatan belajar.

“Mari kita berpikir lebih positif dan terbuka. Masa depan anak bukan ditentukan oleh sekolah favorit atau tidak favorit. Yang terpenting adalah bagaimana anak memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh, didukung oleh keluarga dan sekolah,” pungkasnya.**

Jurnalis: Tim redaksi.