SKI News
Lingkungan Dijaga, Masa Depan Dipersiapkan, Magetan Genjot Inovasi Lingkungan, IKLH Naik atau Sekadar Laporan

Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti didampingi Kepala DLH Saif M mencontohkan kepedulian nyata dengan merawat dan menjaga tanaman bunga di kawasan Alun-alun Magetan. Lingkungan terawat bukan sekadar estetika, tapi cermin tanggung jawab bersama.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN. Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) terus menggaungkan komitmen menjaga lingkungan hidup sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Targetnya mulia: meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) mencakup kualitas air, udara, dan lahan.
Namun di balik deretan inovasi, pekerjaan rumah yang tersisa masih jauh dari kata rampung.
Kepala DLHP Kabupaten Magetan Saif Muchlissun, menegaskan, pengelolaan lingkungan difokuskan pada empat isu krusial: sampah, air, tata guna lahan, dan risiko bencana.
“Ini bukan sekadar program tahunan, tapi upaya jangka panjang menyiapkan masa depan Magetan,” ujar Saif.
Pada sektor persampahan, Pemerintah kabupaten Magetan sejak 2019 telah menerbitkan Instruksi Bupati tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.
Gagasannya sederhana: sampah selesai di desa. Namun realitas di lapangan berbicara lain.
Dari 234 desa dan kelurahan, baru 62 yang memiliki Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pengelola sampah.
Artinya, mayoritas wilayah masih bergantung pada sistem lama angkut, buang, tumpuk.
Gerakan Jumingsih (Jumat Minggu Bersih) rutin digelar dengan melibatkan lintas sektor.
Sungai dibersihkan, drainase dikeruk, pohon ditanam.
Sayangnya, publik kerap bertanya: apakah kebersihan hanya berlangsung sampai spanduk kegiatan diturunkan?
DLHP juga mengandalkan Bank Sampah Induk “Omah Apik”membina ratusan bank sampah unit.
Program Si JOLU menukar sampah dengan sembako menjadi daya tarik tersendiri.
Produk inovatif pun lahir: paving block plastik, biogas, kompor minyak jelantah, hingga maggot BSF.
Meski demikian, tantangannya tetap klasik: kontinuitas, perluasan dampak, dan keberanian menjadikan inovasi sebagai sistem, bukan sekadar etalase.
Untuk sampah organik, program Si Tepo dijalankan melalui empat rumah kompos.
Layanan E-Waste Service dan kemudahan retribusi non-tunai lewat Resi Nona melengkapi deretan terobosan.
“Kami berupaya memudahkan masyarakat agar tidak ada alasan membuang sembarangan,” kata Kepala DLHP.
Namun, kesadaran publik dan pengawasan masih menjadi pekerjaan besar.
Pada sektor air dan sungai, DLHP mendorong reboisasi di kawasan sumber mata air dan menjalankan program Si Kasih untuk menjaga sungai tetap bersih.
Edukasi lingkungan sejak dini digalakkan, termasuk pemanfaatan limbah peternakan melalui GO KOHE.
Upaya ini penting, mengingat ancaman banjir dan krisis air kian nyata, bukan sekadar isu musiman.
Sementara di bidang tata guna lahan, gerakan penghijauan dan pengembangan hutan kota tematik terus dikampanyekan.
Adaptasi perubahan iklim disebut sebagai prioritas.
Meski demikian, alih fungsi lahan dan tekanan pembangunan masih menjadi ironi yang kerap luput dari sorotan serius.
DLHP Magetan menegaskan komitmennya mewujudkan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Publik tentu berharap, inovasi lingkungan tidak berhenti sebagai deretan nama program dan laporan tahunan, melainkan benar-benar terasa di sungai yang bersih, udara yang sehat, dan desa yang mandiri mengelola sampah.
Sebab menjaga lingkungan bukan soal jargon melainkan keberanian menuntaskan pekerjaan hingga ke akar.
Jurnalis: Tim Redaksi.

Agus
Desember 24, 2025 at 8:48 pm
Eneke byr retribusi sampah..drg enek sampah ditukar sembako