SKI News
Jelang BRB & Natal, Pendekar Sooko “Aman-Aman Aja Kok?” Polsek Sooko Malah Tetap Was-Was

Rapat serius, tapi suasana tetap adem. Pendekar Sooko kumpul melingkar, jaga Sooko tetap aman jelang BRB & Natal
Suarakumandang.com. BERITA PONOROGO. Akhir tahun memang momok manis: acara besar, massa tumplek blek, plus sejarah rivalitas antar perguruan yang kadang… ya gitu lah, seharusnya sudah lewat tapi masih aja kebawa suasana.
Tapi Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo beda. Kamis siang (11/12/2025), Polsek Sooko justru berubah jadi ruang “ngopi strategis” para pendekar lintas perguruan dalam Rapat Forum Komunikasi Pencak Silat dan Beladiri (FKPSB).
Suasananya adem, meski Kapolseknya jelas tetap pasang mode was-was profesional.
Dipimpin langsung AKP Moh. Isa Latif, rapat berlangsung lengkap.
Muspika hadir, Danramil Serma Sunyoto ikut nongol, Ketua FKPSB Danan Prihantoko hadir penuh gaya, ditambah perwakilan PSHT, PSHW-TM, IKSPI, Persinas ASAD, Pagar Nusa, Bunga Islam, Inkanas, sampai Bayu Perkasa.
Formasinya lengkap sampai-sampai rasanya tinggal bikin turnamen persaudaraan sekalian.
Agenda panas? Dua sekaligus:
– Bumi Reog Berzikir (BRB) 2025 garapan PSHT
– Natal Bersama 2025 milik PSHW-TM
Dua acara butuh pengamanan ekstra ini berpotensi menyedot massa ratusan hingga ribuan.
Kalau tak diatur dengan baik? Ya jelas: macet, warga ngedumel, linimasa jadi medan debat tak penting yang sebetulnya bisa dihindari.
PSHT Ranting Sooko sudah tegas:
200 warga hadir di pengajian (21/12/2025) dan sekitar 1.000 orang untuk puncak BRB (28/12/2025).
Semuanya wajib naik kendaraan roda empat, biar tak ada konvoi sok-sokan yang bikin warga geleng kepala.
PSHW-TM juga bergerak manis. Mereka meminta support penuh untuk Natal Bersama di Desa Klepu (30/12/2025)—harapannya damai, rapi, dan tidak jadi bahan gibah warung kopi.
Kapolsek Isa Latif memberi sentilan lembut tapi cukup menampar kesadaran bersama.
“Tujuan kita satu: aman dan damai. Sooko itu adem kalau warganya mau musyawarah, bukan adu suara knalpot,” tegasnya.
Santai tapi nyentil terutama bagi oknum masih hobi flexing konvoi.
Ketua FKPSB, Danan Prihantoko, menegaskan bahwa kehadiran seluruh perguruan bukan sekadar formalitas.
“Ini bukti kami guyub. Saudara satu gelar acara, yang lain ikut menjaga. Persaudaraan itu dibuktikan, bukan dipajang,” katanya.
Pukulan telak untuk mereka yang masih merasa “aku paling jago”.
Dari kubu PSHW-TM, Plt. Ketua Agung Margoselo dan Ketua Panitia Natal Yohanes Barta Yudistira tampak lega.
FKPSB sudah komit, berarti Natalan mereka bebas overthinking soal keamanan.
Dan akhirnya, rapat ini membuktikan satu hal sederhana tapi sering dilupakan:
Kalau duduk bareng, rukun itu gampang. Yang bikin ribut biasanya bukan pendekarnya… tapi penontonnya.
Jurnalis: Tim redaksi.
