SKI News
Hadapi Nataru 2026, Lima Perlintasan KA di Magetan Dijaga Ketat, Warga Ingatkan Negara Nasib Penjaga Palang di Kelurahan Tebon Dan Desa Bogorejo

Perlintasan tanpa palang pintu di Kelurahan Tebon dan Desa Bogorejo.
Suarakumandang.com, BERITA MAGETAN , Menjelang lonjakan mobilitas masyarakat pada perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026,
Pemerintah Kabupaten Magetan mengklaim telah menyiapkan pengamanan maksimal di seluruh perlintasan kereta api yang ada di wilayahnya.
Dari total lima perlintasan kereta api di Magetan, empat berada di bawah kewenangan pemerintah daerah, sementara satu perlintasan di wilayah barat Stasiun Magetan menjadi tanggung jawab Daop KAI.
Seluruh titik tersebut disebut telah masuk dalam skema pengamanan terpadu selama momentum Nataru 2026, periode tahunan yang selalu diwarnai peningkatan risiko di perlintasan sebidang.
Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Magetan, Winarto, menegaskan kesiapan pengamanan tersebut bukan sekadar formalitas.
Setiap perlintasan dijaga oleh petugas yang disiagakan tiga shift dalam satu hari, guna memastikan keselamatan pengguna jalan serta kelancaran perjalanan kereta api di tengah padatnya arus lalu lintas.
“Dalam rangka Natal dan Tahun Baru 2026, semua perlintasan sudah kami siapkan. Petugas berjaga tiga shift setiap hari,”ujar Winarto.
Lebih lanjut mereka juga sudah kami briefing dan dibekali pemahaman teknis pengamanan palang pintu agar pelayanan kepada masyarakat berjalan maksimal.
Pemerintah berharap, dengan pola pengamanan tersebut, tidak terjadi insiden di perlintasan sebidang, serta masyarakat dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman selama masa libur panjang.
Namun di balik narasi kesiapsiagaan yang disampaikan pemerintah, suara warga masih menyimpan kegelisahan.
Sejumlah warga Bogorejo, Kecamatan Barat, khususnya di kawasan perlintasan Desa Bogorejo dan Kelurahan Tebon, menilai perhatian negara kerap berhenti pada palang, sirine, dan jadwal jaga tanpa menyentuh persoalan paling mendasar.
Warga menyoroti nasib penjaga palang pintu rekomendasi selama ini menjadi garda terdepan keselamatan, namun dinilai belum memperoleh santunan maupun upah yang layak, padahal beban dan risiko kerja mereka meningkat tajam saat arus mudik dan balik Nataru.
Di tengah jargon kesiapsiagaan Natal dan Tahun Baru, warga mengingatkan bahwa keselamatan tidak hanya dibangun dari besi palang dan suara sirine, melainkan dari manusia yang setia berjaga di bawah terik matahari dan hujan malam.
Momentum Nataru 2026 pun menjadi ujian: apakah negara benar-benar hadir melindungi para penjaga keselamatan, atau sekadar sibuk merapikan laporan kesiapan di atas kertas.
Jurnalis:Tim Redaksi.
